Marhusor do anggo ngolu na satokkin on


RSS
Tampilkan postingan dengan label batak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label batak. Tampilkan semua postingan

PARTUTURON ni Halak Batak


Salam Simarmata...
On ma patu jolona...


Tutur
bisa diterjemahkan sebagai panggilan yang digunakan masyarakat Simalugnun sebagai sebutan untuk/kepada orang tertentu.

Perkerabatan Simalungun
Orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal “silsilah” karena penentu partuturan di Simalungun adalah “hasusuran” (tempat asal nenek moyang) dan tibalni parhundul (kedudukan/peran) dalam horja-horja adat (acara-acara adat). Hal ini bisa dilihat saat orang Simalungun bertemu, bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal-usul anda)?”

Hal ini dipertegas oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih). Kenapa? Karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, raja Panei dari putri raja Siantar, raja Silau dari putri raja Raya, raja Purba dari putri raja Siantar dan Silimakuta dari putri raja Raya atau Tongging.

Adapun Perkerabatan dalam masyarakat Simalungun disebut sebagai Partuturan. Partuturan ini menetukan dekat atau jauhnya hubungan kekeluargaan (pardihadihaon), dan dibagi kedalam beberapa kategori sebagai berikut:

Tutur Manorus / Langsung
Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.

Ompung: Orangtua Ayah atau Ibu, Saudara (Kakak/Adik) dari orangtua Ayah atau Ibu
Bapa/Amang: Ayah
Inang: Ibu
Abang: Saudara lelaki yang lahir lebih dulu dari kita.
Anggi: Adik lelaki; saudara lelaki yang lahir setelah kita.
Botou: Saudara perempuan (baik lebih tua atau lebih muda).
Amboru: Saudara perempuan Ayah; Saudara perempuan pariban Ayah; Saudara perempuan Mangkela. Bagi wanita: orangtua dari Suami kita; Amboru dari suami kita; atau mertua dari Saudara Ipar perempuan kita.
Mangkela: Suami dari saudara perempuan dari Ayah
Tulang: Saudara lelaki Ibu; Saudara lelaki pariban Ibu; Ayah dari besan
Anturang: Istri dari Tulang; Ibu dari besan
Parumaen: Istri dari Anak; Istri dari Keponakan; Anak Perempuan dari Saudara Perempuan Istri; Amboru dan Mangkela kita memanggil istri kita Parumaen
Nasibesan: Istri dari Saudara (Ipar) lelaki dari Istri kita atau saudara Istri kita
Hela: Suami dari Puteri kita; Suami dari Puteri dari kakak/adik kita
Gawei/Eda: Hubungan Wanita dengan Istri Saudara Lelakinya
Lawei: Istri dari Saudara Lelaki
Botoubanua: Puteri Amboru; Bagi wanita: Putera Tulang
Pahompu: Cucu; Anak dari Botoubanua; Anak Pariban
Nono: Pahompu dari Anak (Lelaki)
Nini: Pahompu dari Boru
Sima-sima: Anak dari Nono/Nini
Siminik: Pahompu dari Nono/Nini


Tutur Holmouan / Kelompok
Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun

Ompung Nini: Ayah dari Ompung
Ompung Martinodohon: Saudara (Kakak/Adik) dengan Ompung
Ompung Doli: Ayah kandung dari Ayah, kalau Nenek perempuan disebut Inang Tutua
Bapa Tua: Saudara lelaki paling tua dari Ayah
Bapa Godang: Saudara lelaki yang lebih tua dari Ayah, di beberapa tempat biasa juga disebut Bapa Tua
Inang Godang: Istri dari Bapa Godang
Bapa Tongah: Saudara lelaki Ayah yang lahir dipertengahan (bukan paling tua, bukan paling muda)
Inang Tongah: Istri dari Bapa Tongah
Bapa Gian / Bapa Anggi: Saudara lelaki Ayah yang lahir paling belakang
Inang Gian / Inang Anggi: Istri dari Bapa Gian/Anggi
Sanina / Sapanganonkon: Saudara satu Ayah/Ibu
Pariban: Sebutan bagi orang yang dapat kita jadikan pasangan (suami atau istri) atau adik/kakaknya
Tondong Bolon: Pambuatan (Orang Tua atau Saudara Laki dari Istri/Suami) kita
Tondong Pamupus: Pambuatan Ayah kandung kita
Tondong Mata ni Ari: Pambuatan Ompung kita
Tondong Mangihut
Anakborujabu: Sebagai pimpinan dari semua Boru, Anakborujabu dituakan karena bertanggung jawab pada tiap acara Suka/Duka Cita.
Panogolan: Anak laki/perempuan dari saudara perempuan
Boru Ampuan: Hela kandung yang menikahi Anak Perempuan kandung kita
Anakborumintori: Istri/Suami dari Panogolan
Anakborumangihut: Lawei dari Botou Anakborusanina

Tutur Natipak / Kehormatan
Tutur Natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

Kaha: Digunakan pada Istri dari Saudara Laki-laki yang lebih tua. Bagi Wanita, Kaha digunakan untuk memanggil Suami Boru dari Kakak Ibu.
Nasikaha: Digunakan Istri kita untuk memanggil Saudara Laki kita yang lebih tua
Nasianggiku: Untuk memanggil Istri dari Adik/Anggi
Ham: Digunakan pada orang yang membesarkan/memelihara kita (orang tua) atau pada orang yang seumur yang belum diketahui hubungannya dengan kita
Handian: Serupa penggunaannya dengan Ham, tapi memiliki arti yang lebih luas.
Dosan: Digunakan tetua terhadap sesama tetua
Anaha: Digunakan tetua terhadap anak Muda Laki
Kakak: Digunakan anak Perempuan kepada Saudara Lakinya yang lebih tua
Ambia: Panggilan seorang Laki terhadap Laki lain yang seumuran
Ho: Panggilan bagi orang yang sudah akrab (sakkan) atau pada orang yang derajadnya lebih rendah, kadang digunakan oleh Suami pada Istrinya
Hanima: Sebutan untuk Istri (kasar) atau pada orang yang berderajad lebih rendah dari kita (jamak, lebih dari seorang)
Nasiam: Sebutan untuk yang secara kekerabatan berderajad di atas (jamak, lebih dari seorang)
Akkora: Sebutan orang Tua bagi anak Perempuan yang dekat hubungan kekerabatannya
Abang: Panggilan pada Saudara laki yang lebih tua atau yang berderajad lebih dari kita
Tuan: Dulu untuk pemimpin Huta (Kampung), atau pada Keturunan Raja
Sibursok: Sebutan bagi anak Laki yang baru lahir
Sitatap: Sebutan bagi anak Perempuan yang baru lahir
Awalan Pan/Pang: Sebutan bagi seorang Laki yang sudah memiliki Anak, misal anaknya Ucok, maka Ayahnya disebut Pan-Ucok/Pang-Ucok.
Awalan Nang/Nan: Sebutan bagi seorang Perempuan yang sudah memiliki Anak, misal anaknya Ucok, maka Ibunya disebut Nan-Ucok/Nang-Ucok.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cucu “Panggoaran”


Oleh;Suhunan Situmorang

MESKI petang kian merapat, Nai Posma masih lelap di pondok humanya; tak lagi giat mengusir burung-burung kecil berwarna coklat yang terus berdatangan untuk menyantapi padinya. Sebagaimana padi yang terhampar di seluruh wilayah Janji Matogu, padi milik Nai Posma pun sudah mulai bunting dan menguning.

Ia amat kaget ketika tiba-tiba dibangunkan Amani Posma. Setengah sadar ia bertanya, gerangan apa kiranya yang penting hingga ayah anak-anaknya itu menemuinya ke pondok reot yang teronggok di tengah sawah mereka. Dengan nada riang dan raut muka berbinar-binar, Amani Posma berkata bahwa putra sulung mereka, Padot, baru saja menelepon, memberitahukan kelahiran anak lelakinya. Kegembiraan Nai Posma langsung membuncah dan tanpa menunggu waktu meminta suaminya kembali menghubungi Padot melalui telepon selulernya.

Suaranya terdengar lantang dan beberapa kali mengulang perkataannya karena koneksi telepon mereka tak begitu bersih. “Tak terkira lagi gembira hatiku ini, Amang. Seandainya bisa terbang, saat ini juga aku terbang ke Jakarta untuk melihat cucuku itu.” Entah apa yang dikatakan Padot, Nai Posma tampak manggut-manggut sembari tersenyum. “Olo, Amang, olo,” ucapnya sambil mengangguk, “Sampaikanlah salamku kepada mertuamu, ya.”

Perasaan Nai Posma bergelora laksana ombak samudera. Keutuhan dirinya sebagai natua-tua, seolah sudah terpenuhi setelah menunggu begitu lama. Cucu dari anak lelakinya yang pertama, akhirnya ada. Selama ini, ia dan suaminya acap merasa ada yang kurang dalam diri mereka lantaran belum memiliki nama panggoaran yang diambil dari nama cucu keturunan anak lelaki sulung mereka. Walau ketiga putrinya (kakak dan adik-adik Padot) sudah memberi mereka tujuh cucu, rasanya masih timpang dan karenanya mereka lebih senang dipanggil “Nai Posma” dan “Amani Posma” ketimbang “Ompung ni si Togi,” nama anak sulung Posma.

Usai menelepon Padot, Nai Posma langsung meminta suaminya mengirim SMS ke semua anaknya yang bermukim di perantauan; Posma di Cilegon, Tiodor di Kerinci, Astina di Sei Rampah, juga Manginar di Medan. Langsung pula diajaknya Amani Posma pulang ke huta, ingin segera menyampaikan berita gembira tersebut pada segenap tetangga dan kerabat mereka. Rasanya ia amat ingin bila semua orang yang dikenal dan mengenal mereka di Janji Matogu, Sibuntuon, Sihubak-hubak, Sirait Uruk, Porsea kota, tahu kelahiran cucu panggoaran-nya. Langkahnya tergesa ketika menelusuri pematang-pematang sawah hingga meninggalkan suaminya jauh di belakang.

Seperti dugaannya, para tetangga dan kerabatnya begitu antusias mendengar kabar lahirnya sang cucu; semakin melonjakkan gembira hatinya. Saat bertutur, dua tiga tetes air bening dari matanya sempat membasahi wajahnya yang cekung dan legam karena sering dibakar sinar matahari.
“Bah … tuani ma, Eda,” kata Ompu Netty boru Siagian sambil menyalami Nai Posma.
“Amang tutu …, akhirnya doamu dikabulkan Tuhan,” ujar Ompu Elprida boru Naipospos, yang tergopoh-gopoh muncul dari rumahnya setelah mendengar keriuhan di halaman huta.
“Laki-laki atau perempuan, Inanguda?” tanya Amani Binsar Manurung.
“Laki-laki, Amang,” sahut Nai Posma bersemangat.
“Bah, persis seperti kata pepatah. Hatop adong nadiaduna, lambat adong nadipaima. Tak sia-sialah kalian menunggu, langsung dapat cucu panggoaran laki-laki.”
Nai Posma tersenyum bangga, raut mukanya berbinar-binar.
“Jadi, kapanlah Namboru berangkat ke Jakarta?” tanya Nai Luhut boru Sitorus yang datang bergabung seraya membetulkan letak sarungnya.
“Kalau bisa, secepatnyalah, Inang. Sudah tak sabar lagi aku menggendong cucuku itu, tapi panen padi kita masih sekitar sebulan lagi…”
Nai Luhut dan yang lain manggut-manggut.
“Kasihan pula amangboru-mu,” lanjut Nai Posma, “pastilah kesusahan bila kutinggal sebelum panen selesai, walau ada si Sabam menemaninya.”
“Siapa nama anaknya ito Padot itu, Inangtua?” tanya Donda boru Manurung yang baru datang dari sawah.
“Belum ada, eh … belum tahulah, Inang. Siapa tahu sudah mereka siapkan. Tapi memang sudah kusiapkan nama cucuku itu. Beberapa bulan lalu aku mimpi ada orangtua menemuiku, tak kukenal siapa dia. Katanya, cucuku itu laki-laki, eh … ternyata benar.”
“Baaa …”
“Jadi, siapalah nama cucumu yang sudah kau siapkan itu, Inang?” tanya Nai Sangap boru Panjaitan mengulang pertanyaan Donda.
“Si Pangihutan, Inang. Supaya mangihut hal-hal yang baik. Tapi nama tersebut belum pernah kuberitahu pada siapa pun, termasuk simatua-mu.”
Nai Sangap dan orang-orang yang mengitari Nai Posma manggut-manggut.
“Kalau begitu, mulai sekarang, Inangtua sudah bisa kami panggil Ompu Pangihutan, ya,” kata Donda.

Nai Posma tersenyum sambil manggut-manggut.
Untuk merayakan gembira hatinya, diajaknya tetangga dan kerabatnya itu melanjutkan perbincangan di rumahnya. Ia gelar tikarnya yang besar di ruang tengah rumahnya yang berlantai semen. Dua ekor ayam peliharaannya yang baru kembali ke kandang ia perintahkan agar disembelih Sabam, sementara Donda dan Nai Luhut dimintanya mengulek bumbu serta memasak nasi.

Saat berbincang menunggu matangnya makanan untuk disantap bersama, Nai Posma mengingatkan suaminya agar menemui sintua untuk memberi ucapan syukur kepada gereja. Jemari tangannya begitu ringan saat mengeluarkan lembaran-lembaran Rp 10.000. dan Rp 20.000. lusuh dari dompet plastiknya, padahal biasanya ia selalu merasa berat setiap kali mengeluarkan kertas yang amat berharga itu, karena harus susah-payah ia kumpulkan. “Biarlah uangku yang tak banyak ini kuserahkan kepada gereja sebagai tanda terimakasihku pada Tuhan,” ujarnya seraya menyodorkan uang berjumlah Rp 250.000. itu ke tangan Amani Posma.

***

SATU setengah bulan kemudian, usai memanen padi dan menjual sebagian beras hasil sawahnya di pasar Balige, Nai Posma berangkat menuju Jakarta. Sengaja ia naik bus meski uangnya cukup untuk membeli tiket pesawat dari Medan karena bermaksud mampir dulu di Kerinci untuk mengunjungi Tiodor. Putri keduanya itu, persis di bawah Padot, guru SMP di sana. Suaminya, Manahar Simanullang, bekerja di sebuah perkebunan sawit. Dari Kerinci Nai Posma akan meneruskan perjalanan ke Cilegon untuk mengunjungi Posma. Putri sulungnya itu bersama suaminya, Haposan Hutagalung, membuka usaha tambal ban sekaligus menjual bensin dan solar galon, oli, minyak rem, di tepi jalan raya Cilegon.

“Sudah kuesemes ke menantu dan boru kita memberitahukan keberangkatanmu siang ini,” kata Amani Posma kepada Nai Posma di sebuah kedai kopi merangkap stasiun bus ALS, persis di tepi jalan raya Porsea. Diingatkannya lagi Nai Posma agar tak lupa mengenali barang-barangnya yang sudah diberi Sabam tanda-tanda khusus berupa tulisan spidol agar tak tertukar dengan barang milik penumpang lain. Barang bawaan Nai Posma lumayan banyak. Sebuah koper biru tua berisi pakaiannya, tiga karung beras hasil sawahnya, dan sebuah tas besar yang saudah lusuh berisi delapan potong sarung Balige, empat kilogram ikan asin, enam bungkus tipa-tipa, dan dua kilogram andaliman. (Selama ini, melalui SMS, kedua putrinya sering mengaku mengidamkan ikan asin goreng jenis sangge atau kepala batu dengan sambal berbumbu andaliman. Posma bahkan mengaku sudah amat rindu mengunyah tipa-tipa yang dulu sering ia bikin bersama kawan-kawannya seusai panen).

Tak lupa Nai Posma membawa sehelai ulos mangiring yang ia beli saat menjual berasnya ke pasar Balige, khusus untuk cucunya yang baru lahir; ulos yang memiliki makna, kiranya dengan lahirnya Pangihutan, akan disertai hadirnya lagi adik-adiknya, perempuan maupun lelaki. Ia tak terlalu memasalahkan lelahnya perjalanan dengan bus melintasi wilayah Sumatera Utara, Riau, dan dari sana melanjutkan perjalanan menembus hutan Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, lalu menyeberangi Selat Sunda sebelum tiba di Cilegon. Perjalanan yang membutuhkan waktu berhari-hari dan pasti menjemukan itu seperti terhapuskan suka-cita yang terus bergelinjang di dadanya.

***


NAI POSMA hanya tiga hari di Kerinci, walau Tiodor dan suaminya terus berusaha menahan agar tak buru-buru ia pergi.
“Dua hari lagi pun Omak di sini,” bujuk putri keduanya itu di depan kedai Salero Bundo, stasiun bus P.O Andalas. “Kami kan tak selalu mudah bertemu dengan Omak.”
“Kan sudah kubilang, Inang, sepulang dari Jakarta, aku masih mampir ke Sei Rampah melihat adikmu. Kasihan bapakmu kalau terlalu lama kutinggalkan.” Meski Tiodor merajuk, Nai Posma tetap bertahan. “Sudahlah, Inang” ujarnya seraya mengelus rambut Tiodor, “aku sudah senang melihat kalian semua sehat, terutama cucuku yang dua itu. Doakan saja supaya Tuhan memambahkan rejeki bagi kalian supaya bisa pulang ke Toba tahun baru nanti, atau Omak dan bapakmu bisa mengunjungi kalian ke Kerinci ini.”
Wajah Tiodor cemberut, “Kayaknya memang hanya ito Padot yang penting bagi Omak,” gerutunya sambil menyibak-nyibakkan rambutnya yang panjang. “Kami bukan tak gembira atas kelahiran paramaan kami, tapi dari dulu Omak memang…”
“Eh, jangan bilang begitu, Inang. Semua kalian anak-menantu dan cucuku sama berharganya bagi diriku.”

Dalam perjalanan menuju Cilgeon, pernyataan Tiodor yang disangkal Nai Posma itu terngiang kembali. Di benaknya ia akui bahwa sejak kecil memang selalu mengistimewakan Padot dan sering berbuat tak adil pada anak-anaknya yang lain. Barangkali karena Padot anak lelakinya yang sulung, yang entah kenapa bagi umumnya perempuan Batak seperti dirinya, senantiasa menempatkan anak lelaki sulung dan bungsu di sudut hati tersendiri.
Dulu, kendati uangnya tak banyak, ia akan berusaha mengabulkan permintaan Padot, terutama saat meneruskan SMA-nya di Medan dan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Parahyangan, Bandung. Sementara Posma, walau terbilang cerdas, tak sempat kuliah karena alasan biaya. Tiodor pun hanya ia bolehkan mengambil D3 di IKIP Medan, sementara Astina hanya boleh sekolah perawat dua tahun di Pematang Siantar. Anak lelakinya Manginar yang dulu ngotot kuliah di Surabaya karena diterima di Institut Teknologi Surabaya, hanya ia bolehkan kuliah di Medan, itupun harus menumpang di rumah namboru-nya agar lebih ringan biayanya. Sementara si bungsu Sabam harus menganggur dan tinggal di kampung setamat SMA karena tak masuk di universitas negeri.

Nai Posma memang begitu bangga pada Padot. Selain terbilang anak pintar yang pendiam, tampang dan fisiknya agak beda dari saudara-saudara dan teman sebayanya. Sejak murid SMA, ia sudah disukai gadis-gadis, walau akhirnya Gerda, adik kelasnya di Universitas Parahyangan, penakluknya.
Tetapi, yang tak pernah ia ungkapkan kepada siapa pun termasuk pada suaminya, sesungguhnya ia tak menghendaki menantu setipe Gerda untuk putra kebanggaannya itu. Menurutnya, boru Batak kelahiran Malang itu masih kurang cantik untuk ukuran Padot; pun punya sejumlah kekurangan karena sama sekali tak paham Bahasa Batak dan tak begitu kental menerapkan tata-krama dan paradaton Batak. Tujuh tahun lalu, ketika Padot memutuskan menikahi Gerda, Nai Posma memang tak terang-terangan mengajukan keberatan. Padahal, saat itu, ia amat berharap Padot tak buru-buru menikah agar sempat membantu biaya sekolah adik-adiknya, dan perempuan yang akan diperistrinya, setidaknya memenuhi kriteria yang sudah terpatri di benaknya-sebagaimana umumnya kemauan ibu-ibu Batak pedesaan. Meski hatinya berat, pernikahan anak lelaki sulungnya itu ia setujui dengan jumlah sinamot yang membuat mulutnya sempat menganga-walau seluruhnya ditanggung Padot.

Sejak berumahtangga, Padot dan menantunya baru sekali pulang ke Janji Matogu, itupun hanya dua hari dan Nai Posma amat tak puas karena menurutnya, sikap Gerda tak ada bedanya dengan boru sileban. Mungkin karena saat itu Gerda lebih banyak diam dan lebih senang berduaan dengan Padot di kamar-bisa jadi karena tak paham Bahasa Batak. Tetapi Nai Posma selalu berusaha keras untuk menutupi kekurangan Padot dan menantunya. Bila Posma, Tiodor, Astina, atau Manginar, menggunjingkan ketakramahan dan ketidakpedulian Gerda pada mereka (via SMS atau telepon), jangan diharap akan ditanggapi Nai Posma.
Baginya, Padot dan Gerda seperti tak punya kekurangan, kendati sebenarnya diam-diam sering ia telan sejumlah kekecewaan. Demi menjaga perasaan Padot pula maka ia kubur perbuatan yang semestinya dilakukan seorang parumaen terhadap simatua-nya. Dan, selama tujuh tahun ini ia turut dicengkeram kecemasan seraya terus berdoa supaya Tuhan berbaik hati mengaruniai Padot dan Gerda keturunan; terlepas dari kepentingan mereka yang membutuhkan sebuah nama cucu untuk dijadikan pangggoaran.

***

TIGA minggu lewat dua hari sudah Nai Posma di Celegon. Ia kian gelisah dan sering mengeluhkan panasnya udara dan bisingnya jalan raya. Acap ia uring-uringan karena katanya tak bisa tidur nyenyak dan kehilangan nafsu makan, selain memikirkan keadaan Amani Posma di kampung yang kurang sehat.
Posma dan suaminya merasa tak enak hati, apalagi hunian mereka amat sempit dan bersahaja, rumah petak setengah beton merangkap tempat usaha, persis di sisi jalan raya yang lalu lintasnya padat dan berdebu. Tapi, bisa jadi penyebab utama yang membuat Nai Posma kerap mengeluh dan uring-uringan, karena belum juga bisa bersitatap dengan Padot dan cucu yang amat ingin digendongnya.

Padot masih di Balikpapan mengaudit perusahaan klien kantornya. Pada hari Nai Posma tiba di Cilegon, Padot baru pulang dari Surabaya untuk melakukan tugas yang sama di perusahaan lain. Esoknya langsung berangkat ke Semarang dan sesudah empat hari di sana terbang lagi ke Balikpapan. Sebagai akuntan, ia begitu sibuk. Gerda sendiri masih cuti dan sejak melahirkan bayinya memilih tinggal di rumah orangtuanya di Bukit Sentul, Bogor. Alasannya, supaya ada yang mengurus keperluannya dan bayinya. Apartemen mereka di Taman Rasuna sesekali saja ditengok Padot, biasanya sepulang kerja dari kantornya di gedung Menara Imperium.

Hampir tiap hari Nai Posma menyuruh putri atau menantunya menelepon atau meng-SMS Padot, menanyakan kapan menjemput dirinya ke Cilegon, selain mengungkapkan perasaannya yang tak sabar lagi melihat cucunya. Nai Posma bahkan sudah beberapa kali berkata akan ke Bukit Sentul untuk melihat cucunya, namun Padot tetap mengatakan tak usah karena selain jaraknya cukup jauh dari Cilegon, terasa kurang afdol bila ia tak di sana. Dalam setiap percakapan mereka atau via SMS, Nai Posma tak lupa mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan sebuah nama dan membawa ulos mangiring untuk cucunya, juga oleh-oleh sekarung beras hasil sawah mereka dan dua bungkus tipa-tipa.
Tapi, herannya, manakala bertelepon dengan Padot, Nai Posma akan menutupi kekecewaan dan kekesalan hatinya karena belum juga dijemput. Semua keluhannya seolah raib ditelan bumi, termasuk kekecewaannya pada Gerda yang belum pernah berinisiatif menelepon dirinya sejak tiba di Cilegon.

Diam-diam, Posma (dan suaminya) sudah kesal, apalagi merasa tak enak karena mereka seperti ditempatkan penampung kekecewaan dan keluhan Nai Posma belaka. Akibatnya, terkadang Posma begitu mudah membentak anak-anaknya karena menurutnya ribut hingga ompung tak bisa tidur. Mungkin perasaan Posma bertambah sensitif lantaran kondisi keuangan rumahtangganya yang tak mampu memiliki mobil sederhana sekalipun untuk membawa ibunya ke Bukit Sentul atau berekreasi ke Ancol, Monas, dan Taman Mini. Tapi, dengan keterbatasannya, ia ingin menyenangkan hati Nai Posma, bahkan sudah siap menyewa angkot untuk membawa mereka ke Bukit Sentul. Padotlah yang tak setuju, karena katanya akan segera datang menjemput mereka ke Cilegon.

Sore itu, Padot menelepon Nai Posma. Bicaranya agak tergesa. Katanya, ia baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Balikpapan karena jantung mertua lelakinya tiba-tiba mengalami penyumbatan dan atas anjuran dokter harus segera dioperasi di Singapura. Ia bergabung dengan Gerda bersama kedua mertuanya di bandara dan tengah menunggu penerbangan ke Singapura. Lebih lanjut ia katakan, mungkin sekitar seminggu di Singapura supaya ada yang menemani mertuanya karena kondisi Gerda masih lemah sebab baru tiga bulan partus hingga belum bisa diharapkan bergerak cepat manakala diperlukan.
“Baaa..,” tanggap Nai Posma agak terkejut namun nadanya amat jelas menyisipkan kekecewaan. “Mudah-mudahanlah operasi mertuamu berlangsung baik. Sampaikanlah salamku kepada mereka.”
“Iya, Omak. Tolong doakan mertuaku dan penjalanan kami ke Singapura.”
“Kudoakan pun, Amang. Tapi, aku mau bilang sekarang bahwa dua hari lagi aku akan pulang. Kasihan bapakmu, walau hatiku tak puas karena belum melihat cucuku itu.”
“Pulang?” sela Padot keheranan, “Maksud Omak, pulang ke kampung?”
“Olo, Amang, kasihan bapakmu. Kemarin adikmu si Sabam menelepon, katanya bapakmu sudah seminggu kurang sehat.”
“Tapi, Omak kan belum sempat melihat si Biyanca Rajdjingar?”
“Kenapa harus kulihat dulu biangta najingar, Amang? Ada rupanya anjing kalian?”
“Bukan biangta najingar, Omak, tapi Biyanca Rajdjingar. Itu nama cucumu!”
“Bah-bah-bah, kenapa kalian bikin nama cucuku itu seperti…?”
“Mmm…, Biyanca itu nama pilihan menantumu, Omak. Sedang Rajdjingar, diambil dari nama dokter yang dulu membantu pengobatan kami di Penang.”
Nai Posma tak lagi memberi tanggapan, namun dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia amat kecewa. Ia benar-benar tak sanggup membayangkan dirinya dan suaminya, kelak akan dipanggil dan dijuluki orang-orang di Janji Matogu, “Ompu biangta najingar.” ***

Catatan:
-Biangta najingar: anjing kita yang galak/sangar
-Panggoaran: panggilan/gelar untuk seseorang (orangtua)
-Tuani ma: syukurlah
-Hatop adong nadiaduna, lambat adong naipaima: (harafiah) cepat karena ada yang dikejar, lambat karena ada yang ditunggu
-Mangihut: mengikut
-Simatua: mertua
-Parumaen: menantu perempuan
-Paramaan: anak lelaki saudara laki-laki
-Sinamot: mahar
-Boru sileban: perempuan non-Batak

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berpikirlah Seperti Orang Batak Boru ku....(Cerita Miring Orang batak?)M.Simarmata,ST



1. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu paling enggak mau anaknya sekolah maen2 saja dan cuma di sekolah gak jelas dekat rumah.. kalo perlu dilempar ke laut di suruh berenang jauh2 cuma buat bisa sekolah di tempat yang berkualitas..

2. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu cara berfikirnya beda banget.. bener dan salah itu jelas banget perbedaannya.. tapi garis tengah keduanya juga jelas terlihat.. jadi intinya.. mereka melihat sebuah situasi dari sudut pandang yg berbeda-beda..

3. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu kekeluargaannya keren banget!! kalo anda punya sodara orang batak, ato pun temen orang batak, saat ke rumahnya, pasti disuguhi makanan enak dan suasana nyaman.. mau gk mau, lo pasti terhanyut pada obrolan2 bersama mereka sampai lupa waktu..

4. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu suaranya menggelegar!! walaupun kata orang berisik banget sangking gedenya suara mereka dan kadang dibilang keras kepala, merekalah orang2 yang enggak takut mengutarakan pendapat dan selalu berpegang teguh kepada apa yg mereka yakinin..

5. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu enggak terlalu peduli agama anda apa.. selama anda sama satu suku batak sama mereka.. anda tetep sodara semarga ato pun sesuku sampe dunia kiamat.. bayangin aja, jika ayah anda sampe dipanggil pak haji and tetep dianggap sodara ama orang2 di kampung simalungun.. padahal simalungun banyak yg kristen.. [dan marga gw, saragih, setengah2 sih.. ada yg islam ada yg kristen]..

6. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu pantang banget ikut campur urusan orang lain kecuali jika masalah itu menyangkut masalah saudara ato pun sahabat mereka.. mereka rela ngotot2an cuma untuk membela sodara ato pun sahabat mereka.. jadi intinya.. mereka itu setia banget!!

7. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu selalu bikin suasana ceria.. satu orang batak aja di kelompok lo.. pasti lo selalu terbahak2 dibuatnya.. bukan hanya karena logatnya.. tapi juga karena lelucon2 anehnya..

8. siapa yg enggak bangga coba??? orang batak itu.. aduh.. kebanyakan klo mau ditulis semua.. klo mau singkat.. ya cari dah temen orang batak.. ato kalo enggak liat aja film Nagabonar.. ehehehe.. :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita 50 TOKOH BATAK berpengaruh(A.Zefanya Simarmata)


Cerita 50 TOKOH BATAK berpengaruh
Dari Abad Sebelum Masehi Sampai Abad ke-19
disadur dari berbagai sumber

"Pertimbangkan ini; Ketika Anda memutuskan untuk memilih sesuatu, akan ada harga yang harus dibayar di sisi lainnya. Hidup adalah tentang keputusan bukan perjuangan" M.Simarmata

1. Si Raja Batak (Sebelum Masehi dan Sebelum ada Marga)

Merupakan nama kolektif dari para leluhur Batak. Banyak orang yang salah sangka dengan nama si Raja Batak ini, karena mengira Si Raja Batak merupakan nama individu atau personal yang menurunkan atau melahirkan semua bangsa Batak.

Kebanyakan para sejarawan Batak menggunakan istilah Si Raja Batak sebagai nama kolektif yang menjadi representasi para nenek moyang para Bangsa Batak yang tersebar mulai dari Aceh, Tanah Batak sampai dengan sebagain daerah Minang.

Paska zaman nenek moyang tersebut, masyarakat Batak terbagi menjadi tiga kubu kelompok masyarakat. Pertama Tatea Bulan, kedua Sumba dan ketiga Toga Laut. Jadi ketiga nama tersebut bukanlah nama anak-anak si Raja Batak seperti yang dikira banyak orang, akan tetapi nama kubu atau kelompok marga. Setidaknya seperti itulah yang banyak dipahami para ahli.

Walaupun memang, untuk kepentingan ideologi marga yang eksogamis, nama-nama kelompok dan komunitas tersebut dipersonifikasi untuk menyederhanakan identifikasi dalam hal urusan perkawinan. Beberapa nama dan marga tersebut dibentuk berdasarkan lebih kepada musyawarah atau konsensus dari pada terjadi sendiri tanpa terencana. Oleh karena itulah dalam penulisan tarombo, nama-nama itu dianggap sebagai “anak-anak” si Raja Batak.

2. Tatea Bulan (Sebelum Masehi)

Nama kubu dan nama seorang Raja. Dikenal juga dengan nama Guru Tatea Bulan karena maha karyanya yang bernama Pustaha Agung yang menjadi pedoman adat Batak sampai sekarang.

Kitab ini membahas cakupan antara lain; Ilmu Hadatuan (Medical dan Metaphysical Science), Parmonsahon (Art of Self Defence & Strategy-cum-Tactical Science) dan Pangaliluon (Science of Deceit).

Menurut legenda, Guru Tatea Bula atau disebut juga Toga Datu pernah pergi menemui pamannya (Saudara dari Ibunya) di Siam. Dia bermaksud meminang paribannya, putri sang Paman/Tulang. Tapi rencananya tidak berhasil, tidak disebutkan alasannya. Ketika dia kembali ke kampung halaman, Sianjur Mulamula, dia terkejut dan sangat sedih menemukan kampung halaman yang ditinggalkannya telah kosong. Ayahnya, Si Raja Batak telah meninggal dunia.

Sementara itu, adiknya, Raja Isumbaon telah pindah ke Dolok Pusuk Buhit dekat dengan Pangururan sekarang ini. Adik bungsunya Toga Laut mengembara dan membuka wilayah yang sekarang masuk ke Aceh dan bernama Gayo/Alas.

Dia berinisiatif untuk menemui adiknya; Raja Isumbaon. Di sana dia menetap sementara dan kemudian kembali ke Sianjur Mula-mula, tempat lahirnya. Dia berusaha bangkit dari kepedihan hidupnya tersebut dengan menghabiskan waktunya dengan berkontemplasi dan bekerja; bercocok tanam di sawah. Pada saat-saat itulah dia bertemu dengan seorang wanita pendatang, yang kesasar, dan mengaku bernama Boru Sibasoburning Guru. Sibasoburning mempunyai bahasa yang berbeda dengan bahasa Batak.

Hati tertarik, mungkin sudah jodoh, keduanya menikah. Hasilnya adalah anak pertama raja Miok-miok yang disebut sebagai Raja Gumelleng-gelleng, disebut juga raja Miok-miok atau Biak-biak dengan gelar Raja Uti.

Guru Tatea Bulan dianggap menurunkan sembilan keturunan, lima laki-laki dan empat perempuan yaitu, Raja Biak-biak, Tuan Sariburaja, Limbong Mulana, Sagalaraja (Malauraja), Boru Pamoras, Boru Pareme, Boru Biding Laut dan Natinjo

Melalui Tatea Bulan inilah turun beberapa keturunan Batak yang paling banyak berkecimpung dalam peradaban Batak. Diantaranya adalah Keturunan Raja Uti, Keturunan Raja Lontung, Pasariburaja dan lain sebagainya.

3. Guru Isumbaon (Sebelum Masehi)

Guru Isumbaon merupakan pemimpin kelompok Sumba di komunitas Batak yang dianggap posisinya sebagai adik dari Tatea Bulan dalam hal adat. Sebagaimana Guru Datu, Isumbaon juga mempunyai kapasitas sebagai ilmuwan Batak saat itu.

Ajaran Raja Isumbaon termaktub dalam Kitab Pustaha Tumbaga Holing mencakup; Harajaon (Political Science or the science about the kingdom), Parumaon (Legislation), Partiga-tigaon (Econimics Science or The Arts of Trading) dan Paningaon (Life Skills or Technology.

4. Raja Uti (sebelum Masehi)

Dianggap sebagai kubu paling senior di antara masyarakat Tatea Bulan. Raja Uti menjadi salah satu raja yang memerintah di Sianjur Mula-mula sebelum akhirnya memindahkan ibukotanya ke Barus. Dia merupakan Raja Batak pertama yang memerintah masyarakat maritim Batak.

Dia mempunyai sebukan Raja Biak-biak, Raja Miok-miok, Raja Gumelleng-gelleng dan Raja Hatorusan. Dalam ajaran Parmalim, Raja Uti dianggap sebagai Rasul Batak. Walupun begitu, keturunan Raja Uti sekarang ini kebanyakan menganut agama Islam yang hidup di daerah pesisir barat Sumatera Utara.

5. Tuan Sariburaja

Merupakan tokoh Batak yang diketahui menjadi seorang Batak pertama yang terlibat dalam skandal seks sumbang dengan adiknya sendiri Si Boru Pareme. Hasil dari skandal inilah yang melahirkan Raja Lontung yang menjadi nenek moyang Toga Lontung yang merupakan kelompok marga paling dominan di dalam sejarah peradaban Batak.

Dalam pengembaraan, Tuan Sariburaja kemudian menikah secara resmi dengan Nai Mangiring Laut. Dari istri barunya ini lahirlah seorang anak yang bernama Borbor yang kemudian dikenal Si Raja Borbor.

Friksi dalam keluarga kecil ini menyebabkan perpecahan yang panjang antara Si Raja Lontung dengan Si Raja Borbor. Perselisihan tersebut berlanjut kepada keturunan masing-masing, dimana keturunan Raja Borbor kemudian beraliansi dengan keturunan Limbong Mulana, Sagalaraja dan Malauraja kontra keturunan Si Raja Lontung.

Perkawinan eksogamus diyakini berkembang karena friksi dalam keluarga ini. Sehingga akhir dari pertentangan itu adalah terbentuknya dalihan natolu.

Karena itulah dalam kehidupan sosial berikutnya, aliansi keturunan Raja Borbor tersebut menggunakan panggilan "amangboru" yang lebih kurang berarti ipar dan tidak menggunakan tuturan seharusnya, yakni abang terhadap keturunan Si Raja Lontung.

6. Raja Sori Mangaraja (Sagala) 1000 SM

Merupakan pendiri Dinasti Sori Mangaraja dari Marga Sagala yang merupakan dinasti paling lama di tanah Batak sampai kepada Sorimangaraja CI (ke-101) 1816 M dengan nama Syarif Sagala yang telah memeluk Islam memerintah di Sipirok, ibukota terakhir Dinasti ini.

Kerajaan Sorimangaraja merupakan kerajaan Teokrasi pertama. Dimana pemimpin dianggap sebagai perwakilan tuhan di Bumi. Rajanya bergelar Datu Nabolon atau Supreme Witch Doctor

7. Raja Alang Pardosi

Alang Pardosi merupakan Raja pertama masyarakat Maritim Batak dari kubu Sumba tepatnya marga Pohan. Dia merupakan personalitas Sumba yang berhasil menyaingi Raja-raja Maritim keturunan Raja Uti dari kubu Tatea Bulan. Keturunan Alang Pardosi merupakan pendiri Kesultanan Batak pertama pada abad ke-7 melalui Sultan Kadir Pardosi.

Naskah Jawi yang dialihtuliskan di sini dipetik dari kumpulan naskah Barus dan dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

Kisah dalam buku tersebut dimulai dengan kata-kata “Bermula dihikayatkan suatu raja dalam negeri Toba sila-silahi (Silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan.” Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian dan dalam kisah itu tercatat bahwa anaknya, Alang Pardoksi (Pardosi), meninggalkan jantung tanah Toba untuk merantau.

Alang Pardosi meninggalkan keluarga dan rumahnya sesudah bertikai dengan ayahnya; bersama istri dan pengikutnya dia berjalan ke barat. Dalam sepuluh halaman pertama diceritakan perbuatan-perbuatan Alang Pardosi yang gagah berani, tanah yang dinyatakannya sebagai haknya di rantau, jaringan pemukiman baru yang didirikannya, dan perbenturannya dengan kelompok perantau lain dari Toba.

Alang Pardosi mengklaim hak atas sebidang tanah yang luas, yang merentang dari Kampung Tundang di Rambe (Pakkat sekarang), tempat ia menetap, ke barat sampai Singkil, ke timur sampai perbatasan Pasaribu, ke hilir sampai ke tepi laut. Termasuk di dalamnya Barus.

Keluarga yang berselisih dengan Alang Pardosi adalah keluarga Si Namora. Si Namorapun telah meninggalkan rumahnya di Dolok Sanggul sebagai akibat percekcokan dalam keluarga. Bersama istrinya dia menetap di Pakkat, dan Alang Pardosi, Sang Raja, menyadari kehadirannya ketika pada suatu hari dilihatnya sebatang kayu yang mengapung di sungai. Raja memungut upeti dari Si Namora sesuai dengan adat berupa kepala ikan atau binatang apapun yang dapat dibunuh Si Namora.

Si Namora berputera tiga orang yang beristrikan ketiga puteri Alang Pardosi. Akhirnya yang sulung dari ketiga putera Si Namora yaitu Si Purba, mengambil keputusan untuk mempermasalahkan hubungan antara kedua keluarga sebagai pemberi dan penerima upeti. Maksudnya itu dilaksanakan dengan mengakali Pardosi.

Untuk itu dia harus kembali ke kampung ayahnya di Toba; dia harus mengumpulkan kekayaan keluarga berupa kain dan pusaka. Lalu dari kain-kain itu Purba membuatkan patung seekor rusa yang rupanya bukan main hebatnya dan kepalanya dipersembahkan kepada Pardosi sebagai Upeti. Alang Pardosi begitu takut melihat persembahan tersebut dan membebaskan keluarga Si Purba dari ikatan memberi upeti.

Setelah Alang Pardosi diperdaya, dia mencium adanya gugatan mengenai kedudukannya sebagai raja. Perang meletus dan si Purba memakai penghianatan untuk mengusir Alang Pardosi dan mengambil alih pemukimannya di Si Pigembar. Sebuah kudeta terjadi. Alang Pardosi kemudian mendirikan pemerintahan “in exile” di Huta Ginjang, kota yang baru dibangunnya.

Namun ada pembalasan dari pihak raja yang terusir. Saat kepemimpinan Si Purba pemukiman dirundung kelaparan. Raja yang sah, Alang Pardosi, diminta kembali untuk mengobati keadaan. Namun dia menolak dan meminta supaya si Purba membuatkannya rumah di Gotting, sebuah bukit antara Pakkat ke Barus, bukit tersebut dibelah oleh sebuh jalan yang menyempit di antara dinding batu napal yang keras, sekita lima kilometer dari Pakkat menuju Barus, di atas sebuah jalan sehingga semua orang yang ingin melalui jalan tersebut harus lewat di bawah rumahnya. Kedudukannya di sedemikian di persimpangan jalan-jalan penting memberi kekuasaan besar kepada Alang Pardosi yang menjadi raja yang paling berkuasa dari raja-raja Negeri Batak. Si Purba, kemudian, tinggal di tanah yang dibuka ayahnya yaitu Tanah Rambe atau Pakkat.

Jadi dalam kronik, Raja Alang Pardosi dengan demikian ditentukan sebagai pendiri garis keturunan baru. Proses ini berlanjut terus seusai dia wafat. Kedua anaknya, dari istri kedua, puteri Aceh; Pucara Duan Pardosi dan Guru Marsakot Pardosi berpisah dan pindah ke arah yang berlainan supaya tidak bertikai.

Pucara Duan tinggal pindah ke arah pantai dan menetap di daerah Tukka yang pada abad ke-19 merupakan pusat besar untuk penghimpunan persediaan kapur barus dan kemenyan dan dari sana dibawa ke Barus.

8. Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan

Merupakan tokoh yang disegani dalam adat. Walupun dia bukan merupakan seorang Raja, namun posisinya sampai sekarang masih sangat dihargai. Khususnya dalam reorganisasi sistem adat dan budaya Batak.

Penduduk dataran tinggi, para pendatang di pelabuhan Natal dan Muaralabu (dikenal dengan sebutan Singkuang atau Sing Kwang oleh ejaan Cina), dan terutama elemen-elemen bangsa Pelaut Bugis dari Sulawesi, yang singgah sebelum berlayar berdagang menuju Madagaskar, telah berasimilasi dengan penuh toleransi dengan bangsa Batak.

Para pendatang tersebut dengan sukarela interaksi dan menerima adat Dalihan Natolu agar dapat mempersunting wanita-wanita setempat setelah puluhan tahun di tengah laut. Datu Nasangti Sibagot Ni Pohan dari Toba, seorang yang disegani saat itu, menyatukan mereka; campuran penduduk peribumi dan pendatang tersebut, membentuk marga Nasution.

9. Erha Ni Sang Maima

Merupakan putra dari Raja Doli yang memerintah di Sianjur Mula-mula dan melebarkan kekuasaan mereka sampai ke wilayah Lontung di Samosir Timur.

Dari legenda rakyat mengenai Erha Ni Sang Maima, dia merupakan panglima yang berhasil menggunakan teknologi canggih saat itu dalam pasukannya. Teknologi tersebut adalah penggunaan mesiu dan mercon dengan kuantitas yang besar sehingga menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat. Dalam sebuah penumpasan perang terhadap pemberontak, Erha Ni Sang Maima menggunakan ‘rudal’ tersebut yang meluluh lantakkan sebuah wilayah dan hasil dari ledakan tersebut menyebabkan sebuah cekungan yang akhirnya menjadi danau kecil di daerah Toba. Ada yang mengatakan bahwa letak danau tersebut adalah di Kampung Silaban.

10. Guru Marsakkot Pardosi

Merupakan keturunan Raja Alang Pardosi yang memerintah di pesisir barat Sumatera Utara. Guru Marsakkot merupakan Raja pertama dari keturunan Alang Pardosi yang memerintah sebuah kerajaan Batak yang penduduknya terdiri dari campuran orang-orang Batak dan para saudagar asing khususnya Bangsa Ceti atau yang dikenal sekarang dengan nama Bangsa Tamil atau Keling.

11. Raja Lingga

Mengenai Kerajaan Lingga di tanah Batak Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya "Gajah Putih" yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar abad 11, Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai beberapa anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.

Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.

Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

12. Sultan Kadir Pardosi

Merupakan generasi berikutnya dari Raja Alang Pardosi melalui Guru Marsakkot Pardosi. Dia merupakan keturunan pertama dari Alang Pardosi yang mendirikan kesultanan Batak.

Namun sayang pada masa pemerintahannya, sebuah serbuan dari makhluk yang disebut penduduk sebagai ‘orang-orang Gergasi’ melanda pemerintahannya di Barus sehingga menimbulkan ketidak nyamanan terhadap para saudagar-saudagar asing di kerajaannya.

Akibatnya para orang-orang kaya Batak dan Asing melarikan diri melalui laut menuju Lamuri demi menyelamatkan diri dari terror makhluk tersebut di Barus. Tidak diketahui bagaimana bentuk dan rupa makhluk Gergasi tersebut.

Namun yang pasti, di abad ke-10 pamor Lamuri sebagai kota pelabuhan yang banyak dikunjungi asing semakin terkenal sejajar dengan Barus. Bahkan hasil-hasil produk Barus seperti kamper harus dibawa dulu ke Lamuri untuk kemudian diekspor. Sebagian ada yang diekspor melalui pelabuhan Natal atau melalui darat ke pelabuhan Kerajaan Pane di pesisir timur Sumatera melalui Sungai Barumun.

13. Meurah Johan Lingga

Merupakan putera Raja Lingga. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri

14. Meurah Silu alias Malik al-Saleh

Meurah Silu, yang menjadi prajurit kesultanan Daya, saat itu masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Iskandar Malik dengan gelar Sultan Malik al-Shaleh sebagai sultan pertama pribumi dan pendiri Samudera Pasai. Samudera Pasai berdiri di atas Kesultanan Daya yang dihancurkan oleh Laksamana Ismail al-Siddiq, panglima Dinasti Mamluk, Mesir, yang menggantikan Dinasti Fatimiyah pendukung Kesultanan Daya.

Dikatakan bahwa Kesultanan Pasai di tangan orang Batak Gayo yang kemudian menghancurkan Kerajaan Hindu Aceh, yang terdiri dari Batak-Mante dan imigran Hindu India, yang sudah melemah dengan tumbuhnya komunitas-komunitas muslim dengan kedaulatan sendiri-sendiri.

Sepeninggalan Malik al-Saleh (1285-1296) dia digantikan oleh anaknya Sultan Malik Al Tahir (1296-1327). Putranya yang lain Malik Al Mansyur pada tahun 1295 berkuasa di Barumun dan mendirikan Kesultanan Aru Barumun pada tahun 1299 dengan corak mazhab syiah.

15. Sultan Malik Al Mansyur putera Malik al-Saleh (1299-1322).

Pendiri Kerajaan Syiah Aru Barumun yang menjadi saingan kerajaan ayahnya Malik al-Saleh di Kesultanan Samudra Pasai.

16. Sultan Firman Al Karim (1336-1361).

Merupakan Sultan ketiga di Kesultanan Aru Barumun. Pada era-nya banyak bertikai dengan kekuatan imperialis Jawa Majapahit. Di bawah panglima Laksamana Hang Tuah dan Hang Lekir, pasukan marinir Aru Barumun berkali-kali membendung kekuatan Hindu Majapahit dari Jawa.


17. Sultan Ridwan Al Hafidz (1379-1407).

Merupakan Sultan ke-6 dari Kesultanan Aru Barumun. Dalam masa pemerintahannya dia banyak melakukan hubungan diplomatik dengan pihak Cina

18. Sultan Hussin Dzul Arsa yang bergelar Sultan Haji.

Dia merupakan Sultan ke-7 dari Kesultanan Aru Barumun. Pada tahun 1409 dia menjadi salah satu orang Batak yang ikut dalam rombongan kapal induk Laksamana Cengho mengunjungi Mekkah dan Peking di zaman Yung Lo. Dia terkenal dalam annals dari Cina pada era Dinasti Ming dengan nama “Adji Alasa” (A Dji A La Sa). Orang Batak yang paling dikenal di Cina.

19. Hidayat Fatahillah

Putra mahkota terakhir Kesultanan Samudera Pasai, yang didirikan oleh Meurah Silo, sebelum diakuisisi oleh Kerajaan Aceh Darussalam. Dia mengungsi ke Jawa dan mendirikan kota Jakarta serta menjadi tokoh yang mempertahankan Jakarta dari gempuran Portugis. Di akhir hayatnya dia menjadi Sunan Gunung Jati. Salah satunya Sunan dari orang Batak marga Silo. Namun banyak yang yakin bahwa sebenarnya dia adalah keturunan Arab.


20. Sultan Muhammadsyah (abad ke-15 M)

Dalam konstalasi politik berikutnya, di pesisir Barat Sumatera, terjadi persaingan dan pertikaian politik antara Sultan Moghul, Raja Pariaman, di Sumatera Barat, selatan pesisir Barus dengan Sultan Ri'ayatsyah yang dikenal dengan dengan Raja Buyung di Aceh. Keduanya masih bersaudara. Puncaknya Sultan Moghul ingin menaklukkan Aceh.

Armada angkatan laut Sultan Moghul berangkat menuju Aceh. Beribu pasukan ‘marinir’ tersebut kemudian berlabuh dan melepas jangkar di Fansur untuk memenuhi kebutuhan logistik mereka. Fansur memang pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan dunia, tokoh yang lahir dari wilayah ini adalah mereka yang mempunyai kinayah Al Fansuri.

Saat itu panglima memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki dan mencari tahu mengenai perkembangan Aceh yang terkini. Mereka meminta nasehat dari dua orang ahli strategi Batak; Datu Tenggaran dan Datu Negara, keduanya dari klan Pasaribu. Mereka juga diajak untuk ambil bagian dalam misi tersebut. Posisi Fansur yang cenderung netral tergoyahkan.

Namun perkembangan politik dan melalui pertimbangan-pertimbangan, pasukan Sultan Mogul membatalkan niat penyerbuan tersebut. Datu Tenggaran diminta untuk memimpin pasukan kembali ke Pariaman.

Datuk Negara sendiri tidak berkenan untuk mengikuti pasukan tersebut ke Pariaman, dia lebih memilih untuk tetap berada di Fansur. Dalam pesan selamat tinggalnya, Datuk Teggaran bersumpah kelak akan kembali ke negeri Fansur di Barus. Segumpal tanah dan sekendi air Fansur jadi saksinya.

Di Negeri Pariaman, Datu Tenggaran menyempatkan diri untuk memperdalam agama Islam. Diapun berganti nama menjadi Muhammad. Kegigihan dan kedisiplinan Muhammad dalam mengemban tugas-tugas negara membuat Sultan Moghul bersimpati. Dia menawarkan adiknya Siti Permaisuri putri raja Indrapura Munawarsyah.

Setelah menikah, keduanya membuka wilayah baru dan dinamakan Tarusan untuk mengenang kakeknya Raja Hatorusan II di Negeri Fansur. Sebagai petinggi dan pembuka wilayah Datu Tenggaran dianugerahi gelar Sultan Muhammadsyah.

Di kota baru ini Muhammadsyah juga membawa serta ribuan pengikutnya. Muhammadsyah sendiri mulai membina keluarganya dengan rukun. Anak-anaknya tumbuh besar dan berkembang dengan didikan disiplin dan kebijaksanaan yang mendalam dari sang ayah.

Namun, Salah satu anaknya yang bernama Sultan Ibrahimsyah, menjelang dewasa, sekitar umur 17 tahun, berselisih paham dengannya. Perselisihan tersebut meruncing dan tidak dapat diatasi lagi. Ibrahimsyah pun memilih untuk meninggalkan Negeri Terusan dengan membawa pengikut 1000 orang menuju Fansur.

21. Sultan Mualif Pardosi

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

22. Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

23. Sultan Ibrahimsyah Pasaribu

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini, lihat Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus

24. Sultan Marah Sifat Pardosi

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

25. Mahkuta alias Manghuntal atawa Sisingamangaraja I

Pada tahun 1540 M, Mahkuta atau Manghuntal yang menjadi Panglima di Kerajaan Hatorusan yang berpusat di Barus dan Singkel--ditugaskan menumpas pemberontakan di pedalaman Batak, setelah sebelumnya berhasil mengusir Portugis dari perairan Singkel, memerintah di tanah Batak sebagai Sisingamangaraja I. Kedaulatannya ditransfer oleh Raja Uti VII yang kehilangan kekuasaannya.

Pemerintahan Sisingamangaraja I, hanya berlangsung sepuluh tahun. Sebelum putra mahkotanya, Manjolong, berumur dewasa, masih 12 tahun, Manghuntal dikabarkan menghilang dan tidak pernah kembali lagi.

Orang-orang Bakkara dan lingkungan Istana percaya bahwa Sisingamangaraja menghilang diambil Mulajadi Nabolon ke langit atau menganggapnya sebagai kejadian gaib. Manjolong akhirnya diangkat menjadi Sisingamangaraja II.

Belakangan dari kitab-kitab kuno bangsa Batak Karo diketahui bahwa Sisingamangaraja I ternyata berada di tanah Karo paska menghilangnya raja dari Bakkara. Tidak disebutkan sebab-sebab migrasi Sisingamangaraja. Apakah dia frustasi dengan keadaan rakyatnya yang terus bertikai dan bertengkar, walau sudah dibujuk untuk damai dengan benda-benda pusaka Raja-raja Uti, tidak diketahui dengan pasti.

Tapi melihat riwayat-riwayat budi pekerti sosok Sisingamangaraja I yang anti- perbudakan, anti-rentenir sehingga selalu membayar utang para rakyat yang terlilit hutang dan lain sebagainya, membuatnya banyak memiliki musuh dari elit-elit yang suka mengeksploitasi rakyat. Permusuhan itu, tidak saja dari lingkungan istana tapi bahkan dari kerabatnya sendiri, misalnya namborunya, yang tidak menyukai kebijakannya tersebut.

Paska kepindahannya ke tanah Karo salah satu cucunya yang bernama Guru Patimpus mendirikan huta yang sekarang menjadi Ibukota Provinsi Sumatera Utara.

26. Guru Patimpus

Menurut riwayat Hamparan Perak salah seorang putera dari Sisingamangaraja bernama Tuan Si Raja Hita mempunyai seorang anak bernama Guru Patimpus pergi merantau ke beberapa tempat di Tanah Karo dan merajakan anak-anaknya di kampung–kampung: Kuluhu, Paropa, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji, dan Durian Kerajaan. Kemudian Guru Patimpus turun ke Sungai Sikambing dan bertemu dengan Datuk Kota Bangun.

Berdasarkan bahan–bahan dari Panitia Sejarah Kota Medan (1972) termasuk Landschap Urung XII Kuta, ini dapat dilihat dari trombo yang disalin dalam tulisan Batak Karo yang ditulis di atas kulit–kulit Alin. Trombo ini mengisahkan Guru Patimpus lahir di Aji Jahei. Dia mendengar kabar ada seorang datang dari Jawi (bahasa Jawi bahasa Pasai Aceh, kemudian dikenal dengan bahasa Melayu tulisan Arab. Orang yang datang dari Jawi itu adalah orang dari Pasai keturunan Said yang berdiam di kota Bangun. Orang itu sangat dihormati penduduk di Kota Bangun kemudian diangkat menjadi Datuk Kota Bangun yang dikenal sangat tinggi ilmunya. Banyak sekali perbuatannya yang dinilai ajaib-ajaib.

Guru Patimpus sangat ingin berjumpa dengan Datuk Kota Bangun untuk mengadu kekuatan ilmunya. Guru Patimpus beserta rakyatnya turun melalui Sungai Babura, akhirnya sampailah di Kuala Sungai Sikambing. Di tempat ini Guru Patimpus tinggal selama 3 bulan, kemudian pergi ke Kota Bangun untuk menjumpai Datok Kota Bangun. Konon ceritanya dalam mengadu kekuatan ilmu, siapa yang kalah harus mengikuti yang memang. Dalam adu kekuatan ini, berkat bantuan Allah SWT Guru Patimpus kalah dan dia memeluk agama Islam, sebelumnya beragama Perbegu.

Dia belajar agama Islam dari Datuk Kota Bangun. Dia selalu pergi dan kembali ke Kuala Sungai Sikambing pergi ke gunung dan ke Kota Bangun melewati Pulo Berayan yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja Marga Tarigan keturunan Panglima Hali. Dalam persinggahan di Pulo Berayan, rupanya Guru Patimpus terpikat hatinya kepada puteri Raja Pulo Berayan yang cantik. Akhirnya kawin dengan puteri Raja Pulau Berayan itu, kemudian mereka pindah dan membuka hutan kemudian menjadi Kampung Medan. Setelah menikah, Patimpus dan istrinya membuka kawasan hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Tanggal kejadian ini biasanya disebut sebagai 1 Juli 1590, yang kini diperingati sebagai hari jadi kota Medan.

27. Sisingamangaraja II

Dikenal dengan nama Raja Manjolong gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan memerintah 1550 s.d 1595

28. Hafidz Muda putera Guru Patimpus

Menurut trombo yang ditulis dalam bahasa Batak Karo di atas kulit Alin itu, Hafiz Muda kemudian menggantikan orang tuanya Guru Patimpus, menjadi Raja XII Kuta. Putera Guru Patimpus dari ibu yang lain bernama Bagelit turun dari gunung menuntut hak dari ayahandanya yaitu daerah XII Kuta. Setelah puteranya Bagelit memeluk agama Islam daerah XII Kuta yang batasnya dari laut sampai ke gunung dibagi dua. Kepada Bagelit diberi kekuasaan dari Kampung Medan sampai ke gunung. Akhirnya kekuasaan Bagelit dikenal dengan Orung Sukapiring. Sedangkan Hafiz Muda tetap menjadi Raja XII Kuta berkedudukan di Kampung Medan. Waktu itu Medan adalah sekitar Jalan Sungai Deli sampai Sei Sikambing (Petisah Kampung Silalas). Guru Patimpus dan puteranya Hafiz Muda yang menjadikan Kampung Medan sebagai pusat pemerintahannya.

29. Panglima Manang Sukka

Dia adalah orang Karo yang menjadi prajurit pasukan Aceh dan tahun 914 H/1508M, dia mendirikan Kerajaan Haru Delitua. Dia memakai gelar Sultan Makmun Al Rasyid I. Permaisurinya bernama Putri Hijau, saudara perempuan dari Sultan Mughayat Syah.

Angkatan Bersenjata Portugis dari Malakka pata tahun 930 H/1523 M menggempur Kesultanan Haru Delitua. Mereka bergerak dan menyisir daerah yang bernama Labuhan Deli sampai Deli Tua sambil menembaki siapa saja manusia yang hidup di daerah tersebut.

Mereka menggempur pasukan Makmun Al Arsyid dengan persenjataan berat dan artileri. Pasukan Makmun Al Rayid dengan bantuan pasukan dari Aceh bertahan di Sukamulia dan semuanya tewas dalam pembantaian tersebut.

Pasukan pengawal istana kerajaan habis dibantai yang terdiri dari semua penduduk yang berjenis kelamin laki-laki. Permaisuri Putri Hijau dengan lima orang putrinya ditawan oleh pasukan keling di bawah tentara Portugis ini. Para kaum keling India ini berasal dari provinsi Goa di India barat. Pasukan tersebut juga didukung oleh orang-orang Macao, Cina. Para putri-putri tersebut menjadi korban kebiadaban perkosaan dari tentara-tentara bayaran tersebut.

Putri Hijau sambil berzikir diikat ke mulut sebuah meriam lalu diledakkan. Tubuhnya hancur lebur tanpa bentuk. Puntung dari meriam Portugis itu menjadi “Keramat Meriam Puntung”, sebuah relik bagi orang-orang Karo Dusun yang muslim.

Pada tahun 1853, Sultan Ibrahim Mansyur Syah, Sultan Aceh, mengangkat Wan Usman di Labuhan Deli dengan nama Sultan Usman Perkasa Alam menjadi Sultan Deli yang pertama.


30. Tuanku Maraja Bongsu Pardosi (1054 H)

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.


31. Jonggi Manoar I

Sebenarnya Jonggi Manoar merupakan nama lembaga adat. Namun yang ingin dibahas di sini adalah orang yang menempati jabatan tersebut pertama sekali.

Lembaga Jonggi Manoar atau Menawar merupakan lembaga raja atau perwakilan raja yang dibentuk oleh Tuanku Sultan Marah Laut Pasaribu (hidup di era Tuanku Maharaja Bongsu Pardosi, 1054 H atau Tuanku Mudik/Dihulu), saat berkunjung ke Luat Sagala Limbong di Toba. Pasaribu, Limbong dan Sagala merupakan keturunan Tatea Bulan.

Diceritakan, melalui, Sejarah Tuanku Batu Badan atau Tambo Barus Hilir, sebuah manuskrip sejarah bertuliskan Arab dan berbahasa melayu yang masih disimpan oleh Zainal Arifin Pasariburaja di Barus, seorang keturunan Bangsawan Kesultanan Dinasti Pasaribu, atau Tuanku Di Hilir. Manuskrip tersebut telah beredar banyak dalam tesis seorang peneliti dari Australia.

Bahwa sepeninggalan Sultan Adil Pasaribu, kesultanan Barus diserahterimakan kepada putranya Tuanku Sultan Marah Laut. Disaksikan oleh semua penduduk kerajaan. Di Barus sendiri terdapat dualisme pemerintahan. Di satu pihak berdiri Dinasti Pardosi (Turunan Marga Pohan) dari Sumba yang dikenal dengan Tuanku Di Hulu atau Tuanku Mudik dan yang satu Dinasti Pasaribu dari Tatea Bulan yang dikenal Tuanku Di Hilir, penerus Kerajaan Hatorusan.

Diceritakan bahwa Sultan melakukan perjalanan ke Toba. Tidak diceritakan sebab-sebabnya. Tapi diyakini merupakan bagian dari memperluas dan mengambil dukungan dari pihak Toba yang menjadi nenek moyang Pasaribu untuk menghadapi Dinasti Pardosi. Kubu Pasaribu sendiri merupakan keturunan Borbor/TateaBulan yang sejak dahulu menghuni Luat Sagala Limbong.di Toba. Persaingan dengan kubu Dinasti Pardosi sangat intens. Sehingga perjalanan ini merupakan akibat dari konstelasi politik saat itu.

Perjalanan dilakukan melalui sebuah daerah yang bernama Doli (Dolok=Dolok Sanggul?). Di sana dia bermukim dan sempat berkeluarga dan mendapatkan anak laki-laki. Perjalanan diteruskan ke tujuannya yakni Sagala Limbong.

Di sana dia bermukim dan mendapat tempat dari penduduk setempat yang masih kerabatnya.

"Maka dengan takdir Allah SWT sekalian (orang-orang) Batak itupun takluklah kepadanya karena tiada dapat melawannya karena Tuanku Sultan Marah Laut terlalu gagahnya. Maka (masyarakat) Batak pun sujudlah menyembah ke bawah duli yang maha mulia serta diangkatnya jadi akan rajanya di sana." Demikian bunyi sejarahnya.

Setelah Sultan Marah Laut memerintah di Sagala Limbong dalam waktu yang lama, dia berpikir untuk kembali ke Barus.

Maka masyarakat dan petinggi kerajaan dikumpulkan mendengar titah sang raja. Sultan Marah Laut kemudian berdiri dan mengumumkan kepergiannya.

"Ya Tuan-tuan sekalian. Dengarkan hamba berkata. Adapun hamba ini negeri hamba sudah lama hamba tinggalkan dan sekarang hamba meminta izin pada tuan-tuan sekaliannya. Hamba hendak berjalan dahulu pulang ke negeri Barus karena hamba sudah lama meninggal(kan) saudara saya."

Namun keinginan tersebut ditolak oleh warga yang menginginkan kehadiran seorang pemimpin yang mempunyai kewibawaan. Maka diambilkan jalan keluar melalui sebuah kompromi. Bahwa akan diangkat sebuah perwakilan Sultan di Sagala Limbong. Dan apabila melakukan sebuah upacara yang membutuhkan kehadiran Sultan maka hal itu dapat diwakilkan dalam pengiriman persembahan kepada pihak Sultan di Barus.

"Sekarangpun hamba perbuatlah akan wakil saya di sini sementaranya hamba belum balik, kiranya jikalau tidak, hamba berbalik kemari melainkan turut oleh tuan hamba ke negeri Barus. Jikalau hamba tidak ada melainkan anak cucu hamba banyak di Barus ke sanalah tuan-tuan menghantar 38 persembahan."

Sultan kemudian membentuk dua lembaga perwakilan di Sagala Limbong. Pertama bernama Raja Jonggi Menawar (disebut juga Manoar yang berasal dari kata Munawwar dari bahasa Arab, sebuah nama yang lazim digunakan yang berarti yang menyinari atau yang menerangi). Lembaga kedua bernama Raja Bunga-bunga. Melalui kedua raja inilah, Sultan memerintah daerah Sagala Limbong dan penghantaran persembahan ke Barus dilakukan.

Perjanjian yang dibuat antar pemuka adat saat itu bahwa

"Dalam satu tahun melainkan satu kali raja kedua itu mengantar persembahan kuda satu akan tetapi apabila raja kedua itu membawa kuda persembahan melainkan merurut membawa kambing jantan gadang seekor pemberi kepada Tuanku Mudik, karena kami sudah sebuah kota." Demikian bunyi perjanjian tersebut. Tuanku Mudik adalah Sultan-sultan Pardosi yang memerintah di hulu. Perjanjian tersebut selain bernilai adat tapi juga bernilai politik karena hal tersebut mengikat kedaulatan tiap-tiap huta.

Maka perjalanan pulang Sultan beserta para pejabat dan hulubalang kerajaan dilakukan melalui sebuah negeri yang bernama Lintong. Raja Lintong pun menerima perjanjian yang dibuat di Sagala Limbong tersebut.

Acara pemberian persembahan tersebut dilakukan setiap tahun. Dimulai dengan datangnya Raja Jonggi Manoar melalui negeri Lintong. Negeri Lintong juga akan ikut memberikan persembahan dan perwakilannya ikut mengantar. Begitu juga daerah-daerah yang dilalui yang menandatangani perjanjian persahabatan dengan Barus.

Diantaranya adalah negeri Sihotang, Negeri Siringo-ringo, Negeri Manullang, Negeri Rambe (Pakkat).

Beberapa daerah yang rajanya diangkat oleh Sultan di Barus juga melakukan persembahan. Diantaranya Negeri Panggarutan, Negeri Dairi, Negeri Tombah, Negeri Tukka, Negeri Gomburan. Semua raja-raja yang disebut terakhir ini diangkat atas persetujuan Kesultanan Barus.

Kemudian semua persembahan tersebut dikumpulkan di istana Raja Tuktung. Dan dalam adatnya Raja Jonggi Manoar akan membeli persalin kain kepada Raja Tuktung. Raja Tuktung adalah kerabat Kesultanan Barus yang istananya berada dalam perbatasan wilayah Barus. Kedudukannya sangat dihormati selain sebagai kerabat Kesultanan tapi juga perjalanan menuju Barus harus melalui daerah kekuasaannya.

Setelah memberikan penghormatan kepada Raja Tuktung, maka perjalanan ke wilayah Kesultanan Baruspun dilakukan melalui Pangarabuan terus menuju istana Sultan.

Upacara tersebut selalu dipimpin oleh Raja Jonggi Manoar. Kebiasaan ini bahkan sudah terlembagakan dalam adat. Diyakini tujuan utamanya dahulu adalah motif politik dan ekonomi. Motif politiknya adalah bahwa pihak Kesultanan Barus sangat membutuhkan dukungan politik dan moral kepada kelangsungan Kesultanan. Di lain pihak, kehadiran perwakilan Kesultanan di Toba sangat dibutuhkan sebagai pemimpin dan penengah di tengah-tengah masyarakat Toba yang terpecah-pecah dan selalu bertikai. Kehadiran mereka juga merupakan persyaratan adat dengan keharusan menghadirkan perwakilan dari keturunan Raja Uti agar upacara adat dan agama menjadi sah. Raja Uti sendiri merupakan tokoh spiritual dalam masyarakat Batak. Khusunya bagi kalangan Parbaringin dan Parmalim.

Motif ekonominya adalah untuk menjamin kesinambungan hubungan dagang antar dua komunitas Batak. Daerah Toba merupakan daerah pertanian yang menghasilkan banyak komoditas dagang. Sementara itu, daerah Batak Pesisir merupakan pelabuhan tempat keluarnya komoditas tersebut ke pedagang-pedagang asing.

Lembaga Jonggi Manoar yang dibentuk oleh Sultan Marah Laut merupakan media penghubung antar peradaban Batak di dua kerajaan; Kesultanan Batak di Barus dan Kerajaan Batak Sisingamangaraja.

Penulis sejarah Batak kemudian mengenal Jonggi Manoar sebagai sebuah lembaga perlengkapan adat. Lembaga Jonggi Manoar, menurut Sitor Situmorang, Toba Na Sae, Komunitas Bambu, Jakarta 2004, Hal 226-228, merupakan tradisi penggambaran pendeta raja. Yang mempunyai hubungan istimewa dengan Raja Uti/Barus.

"Dikatakan bahwa Jonggi Manoar memperoleh kesaktiannya dari Raja Uti lewat pelaksanaan 'somba' sebagai ritual berkala…"

"Bahkan diklaim bahwa di masa lalu semua wilayah Toba mengirim sombanya kepada Raja Uti harus lewat Jonggi Manoar…"

"Menjadi tradisi bahwa setiap Sisingamangaraja baru, selain di upacara-upacara khusus di gelanggang berbagai onan wilayah Toba, utusan Raja Barus selalu diundang hadir sebagai kesempatan mengenalnya, yaitu sebagai pada upacara 'perkenalan' Sisingamangaraja di daerah Humbang."

Namun dengan punahnya kesultanan Barus maka berakhir pula tradisi dan kebiasaan tersebut di atas.

32. Tuanku Raja Kecil Pardosi

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

33. SM Raja III, Raja Itubungna, 1595-1627 M

34. Sultan Daeng Pardosi

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

35. Sisingamangaraja IV (1627-1667)

Dengan nama Tuan Sorimangaraja

36. Sultan Yusuf Pasaribu

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini, lihat Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus

37. Sisingamangaraja V (1667-1730)

Dengan nama aseli Raja Pallongos.

38. Sultan Adil Pasaribu

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini, lihat Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus

39. Tuanku Dorong Hutagalung

Pendiri Kerajaan Siboga.

40. Sisingamangaraja VI (1730-1751)

Bernama Raja Pangolbuk memerintah di Bakkara

41. Raja Simorang

Pada tahun 1736-1740, Raja Simorang dari Tapanuli memimpin penduduk Barus, khususnya Sorkam dan Korlang, mengusir VOC, perusahaan Belanda yang banyak meresahkan (monopoli) perekonomian setempat . Mereka dipimpin oleh Raja Simorang dari Tapanuli dan Raja Bukit.

42. Sultan Marah Tulang Pardosi

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

43. Sisingamangaraja VII,

Dengan nama Ompu Tuan Lumbut memerintah antara tahun 1751-1771

44. Raja Junjungan Tanjung (1757)

Raja Junjungan Tanjung berasal dari Sipultak, Humbang, Toba. Dia berkuasa di Kerajaan Sorkam pada tahun 1757 Masehi. Sebagai sebuah daerah yang otonom dari pengaruh Kesultanan Barus, Sorkam selalu berada dalam bayang-bayang hegemoni raja-raja Barus.


45. Sultan Munawarsyah Pardosi

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

46. Sisingamangaraja VIII (1771-1788)

Dengan nama Ompu Sotaronggal bergelar Raja Bukit memerintah pada tahun 1771-1788

47. Raja Maiput Tanjung Gelar Datuk Tukang (1778-1792)

Bagian dari Dinasti Tanjung.

48. Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini lihat di Kumpulan Naskah Barus, dijilid dan disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan No. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.

49. Tuanku Sultan Pasaribu

Lebih lengkapnya biografi tokoh ini, lihat Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus

50. Sultan Raja Kecil Pasaribu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

catatan tanggal- tangal penting info lowongan CPNS(Catatan Kaki Manson)

catatan / ringkasan tanggal tangal penting info lowongan CPNS (Pendaftaran, Hasil Seleksi, Tempat dan Waktu Ujian, serta finalisasi tingkat kementerian): Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, CPNS BKN, Kementerian Kelautan dan Perikanan, CPNS KEJAKSAAN, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perhubungan, Kemdiknas, Kementerian Perindustrian, Badan Kepegawaian Negara, Bakosurtanal, Menterian Riset dan Teknologi, kementerian hukum dan ham, dan masih banyak yang lainnya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan

  • Pengumuman pengadaan CPNS tanggal 29 September 2010;
  • Pendaftaran lamaran online di www.ropeg.dkp.go.id dengan mengakses menu PENGADAAN CPNS KKP TAHUN 2010 mulai tanggal 29 September 2010 sampai dengan 13 Oktober 2010 jam 12.00 WIB;
  • Penerimaan berkas lamaran tanggal 1 Oktober 2010 sampai dengan 15 Oktober 2010;
  • Pengumuman lulus seleksi administrasi direncanakan tanggal 22 Oktober 2010 melalui website www.ropeg.dkp.go.id;
  • Pengambilan Tanda Peserta ujian tertulis :
    • Lokasi ujian di Jakarta tanggal 25 Oktober 2010 di Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta;
    • Lokasi selain di Jakarta tanggal 26 Oktober 2010 di lokasi ujian sesuai pilihan pelamar;
  • Pelaksanaan ujian tertulis dilaksanakan serentak pada tanggal 27 Oktober 2010 di lokasi yang ditentukan mulai pukul 08.00 waktu setempat;
  • Pengumuman hasil ujian tertulis tanggal 6 November 2010 melalui website www.ropeg.dkp.go.id;
  • Pelaksanaan ujian wawancara bagi peserta yang dinyatakan lulus ujian tertulis pada tanggal 9 November 2010 mulai pukul 08.00 waktu setempat di lokasi yang akan ditentukan kemudian;
  • Pengumuman hasil akhir pengadaan CPNS tanggal 16 November 2010;
  • Pemberkasan lamaran Pengadaan CPNS Kementerian Kelautan dan Perikanan Tahun 2010 direncanakan dilaksanakan pada tanggal 22 November 2010 sampai dengan 24 November 2010 di lokasi yang akan ditentukan kemudian.

Kementerian Kehutanan

  • Pelamar dapat melakukan pendaftaran secara online ke alamat website http://www.ropeg.dephut.go.id pada tanggal 5 sampai dengan 12 Oktober 2010 dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 24.00 WIB.
  • Keterangan lebih rinci dapat dilihat di http://www.ropeg.dephut.go.id

Kementerian Dalam Negeri KEMDAGRI

  • Pendaftaran dilaksanakan secara on-line melalui Portal Kementerian Dalam Negeri www.depdagri.go.id mulai tanggal 01 Oktober 2010 sampai dengan tanggal 04 Oktober 2010;
  • Berkas lamaran diterima Panitia Pengadaan/Penyaringan CPNS Pusat Kementerian Dalam Negeri Tanggal 01 Oktober 2010 sampai dengan Tanggal 09 Oktober 2010 (cap pos).
  • Pelamar dapat melihat pengumuman yang dinyatakan lulus seleksi administrasi pada tanggal 18 Oktober s.d 24 Oktober 2010 melalui portal Kementerian Dalam Negeri www.depdagri.go.id

Kejaksaan Republik Indonesia

  • Kejaksaan Republik Indonesia membuka pendaftaran (CPNS) 2010 sebanyak 1.583
  • Waktu Pendaftaran : Hari : Selasa s/d Kamis – tanggal : 5 s/d 7 Oktober 2010 – Jam : pukul 08.00 s/d 12.00 dan 13.00 s/d 15.00 waktu setempat.
  • Tempat pendaftaran: Bertempat di Kejaksaan Agung dan Kejaksaan Tinggi seluruh Indonesia kecuali Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta
    • Kejaksaan Agung di Jakartamenerima pendaftaran pelamar yang memiliki KTP DKI Jakarta.
    • Kejaksaan Tinggi di seluruh Indonesia kecuali Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menerima pendaftaran bagi pelamar yang memiliki KTP di wilayah Kejaksaan Tinggi setempat,

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

  • Waktu Pendaftaran : Penerimaan berkas Lamaran dimulai pada tanggal 5 s.d 20 Oktober 2010 dari pukul 09.00 s.d 15.00 WIB, pada hari kerja
  • Pengumuman Seleksi Administrasi, Bagi Pelamar yang memenuhi syarat akan diumumkan pada tanggal 25 Oktober 2010, melalui Internet (website BKN) www.bkn.go.id atau www.sesmabkn.com dan pada papan pengumuman di Loby Lantai Dasar Gedung Blok II, BKN Jalan Letjen Sutoyo No, 12, Cililitan, Jakarta Timur dan papan pengumuman Kantor Regional II BKN Surabaya, Jalan Letjen S. Parman No. 6 Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.
  • Pelamar yang dinyatakan lolos Administrasi, dapat langsung mengambil Kartu Tanda Peserta Ujian, tanggal 26 s.d 27 Oktober 2010, dengan menunjukkan tanda terima penyerahan berkas lamaran;
  • Bagi Pelamar yang mendaftar melalui Kantor Pusat BKN tempat Ujian dilaksanakan di Kantor Pusat BKN Jakarta dan bagi Pelamar yang mendaftar melalui Kantor Regional II BKN tempat ujian di Kanreg II BKN Surabaya dengan Jadual Ujian Tahap I akan disampaikan pada saat pengambilan kartu peserta;
  • Bagi yang lolos ujian tahap pertama akan mengikuti ujian tahap kedua dengan Jadual dapat dilihat pada papan pengumuman atau Website BKN www.bkn.go.id atau www.sesmabkn.com bersamaan dengan pengumuman Hasil Tes Potensi

Kementerian Perhubungan

  • Hasil seleksi Administrasi direncanakan diumumkan pada tanggal 22 Oktober 2010
  • Pelamar yang lulus Seleksi Administrasi diberikan Tanda Peserta Seleksi direncanakan dibagikan pada tanggal 25 s.d. 28 Oktober 2010. Tempat pengambilan Tanda Peserta Seleksi diumumkan melalui website Kementerian Perhubungan dengan alamat: www.dephub.go.id
  • peserta yang dinyatakan Lulus Seleksi Tertulis Tingkat Sarjana (D.IV, S1, S2) direncanakan pada tanggal 15-21 November 2010.

Komisi Yudisial

  • Surat lamaran dikirim ke Sekretariat Jenderal Komisi Yudisial Republik Indonesia selambat-lambatnya tanggal 15 Oktober 2010 (stempel pos) melalui PO BOX 2685 JKP 10026
  • Bagi pelamar yang memenuhi persyaratan administrasi akan diumumkan melalui situs resmi Komisi Yudisial Republik Indonesia www.komisiyudisial.go.id dan papan pengumuman pada tanggal 27 Oktober 2010;
  • Pelamar yang diyatakan lulus seleksi administrasi dapat mengambil tanda peserta ujian di Kantor Komisi Yudisial Republik Indonesia, Jl.Kramat Raya No.57 Jakarta Pusat pada tanggal 28 s/d 29 Oktober 2010 pukul 09.00 s/d 15.00 WIB.

Kementerian Riset dan Teknologi

  • Pendaftaran/registrasi online 1 s/d 18 Oktober 2010 melalui situs http://sdm.ristek.go.id/cpns.
  • Hasil Seleksi Administrasi dijadwalkan akan diumumkan pada tanggal 21 Oktober 2010 melalui situs http://sdm.ristek.go.id/cpns.
  • Jadwal dan Tempat Pengambilan Kartu Tanda Peserta Ujian akan diumumkan melalui situs http://sdm.ristek.go.id/cpns.
  • Tes Tertulis dijadwalkan akan dilaksanakan pada: Hari : Selasa, 26 Oktober 2010 Waktu : Pkl. 08.30 – 13.00 WIB Tempat : Istora– Senayan
  • jadwal dan tempat pelaksanaan akan diumumkan bersamaan dengan pengumuman hasil ujian tertulis melalui website http://sdm.ristek.go.id/cpns
  • Hanya Pelamar yang dinyatakan Lulus Tes Tertulis dan mengikuti tes talent mapping yang akan dipanggil untuk mengikuti Wawancara.
  • Informasi resmi yang terkait dengan Penerimaan CPNS KRT 2010 hanya dapat dilihat dalam situs http://sdm.ristek.go.id/cpns/atau http://www.ristek.go.id.

Badan Tenaga Atom Nasional BATAN

  • Pendaftaran pelamar dibuka mulai tanggal 1 s/d 15 Oktober 2010secara On-Line melalui Situs BATAN: http://www.batan.go.id/
  • Surat lamaran dikirim melalui pos dengan mencantumkan “lamaran dan kode jabatan” diterima oleh Panitia Pengadaan CPNS BATAN paling lambat tanggal 20 Oktober 2010
  • Pelamar yang lulus seleksi administrasi akan diumumkan melalui situs BATAN dan sekaligus mendapatkan nomor ujian pada tanggal 22 Oktober 2010.
  • Pelamar yang lulus seleksi Administrasi wajib datang ke GOR PERTAMINA Simprug, Jl. Teuku Nyak Arief – Jakarta Selatan (semula di Kantor Pusat BATAN) pada tanggal 25 Oktober 2010 pukul 08.30 s/d 20.00 WIB untuk mengambil Kartu Tanda Peserta Ujian CPNS BATAN 2010 dengan membawa KTP.
  • Tes tertulis akan dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2010 pukul 08.00 WIB s/d selesai di GOR PERTAMINA Simprug, Jl. Teuku Nyak Arief – Jakarta Selatan (Semula di Istora Senayan).
  • Pelamar yang dinyatakan lulus dalam tes tertulis akan diikutsertakan dalam seleksi tahap berikutnya (jadwal menyusul).

Kementerian Koordinator Bidang KESRA

  • Formasi yang dibutuhkan sebanyak 17 lowongan.
  • Pendaftaran dibuka mulai tanggal 5 sampai dengan 15 Oktober 2010; Tempat pendaftaran pada Sekretariat Tim Pengadaan CPNS Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Jl. Medan Merdeka Barat No. 3, Jakarta Pusat. Waktu pendaftaran setiap hari kerja, dibuka mulai pukul 10.00 s/d 15.00 WIB
  • Pelamar yang dinyatakan lolos seleksi administratif akan diumumkan melalui situs internet resmi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dengan alamat http://www.menkokesra.go.id dan papan pengumuman pada hari Rabu, tanggal 20 Oktober 2010;
  • Pengambilan Kartu Tanda Peserta Ujian dijadwalkan pada hari Senin s/d Rabu, tgl. 25 s/d 27 Oktober 2010, pukul 11.00 s/d 15.00 WIB, di Ruang Sekretariat Tim Pengadaan CPNS Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Jl. Merdeka Barat Nomor 3, Jakarta Pusat.
  • Ujian tertulis akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 30 Oktober 2010
  • Pelamar yang dinyatakan lolos tahapan seleksi tertulis diharuskan mengikuti wawancara, yang waktunya akan ditentukan kemudian

Kementerian Perhubungan

  • Kementerian Perhubungan Republik Indonesia memberi kesempatan bagi Warga Negara Indonesia pria dan wanita yang memiliki kualifikasi pendidikan D.IV, S1, dan S2 atau yang disetarakan
  • Pendaftaran ONLINE melalui website Kementerian Perhubungan dengan alamat: www.dephub.go.id, dimulai sejak tanggal 27 September s.d. 11 Oktober 2010
  • Berkas Administrasi Lamaran dikirimkan melalui PO BOX yang telah ditetapkan beserta Bukti Registrasi Pendaftaran ONLINE selambat-lambatnya diterima tanggal 16 Oktober 2010 (Cap Pos);
  • Seleksi dilaksanakan dengan sistem gugur melalui tahapan sebagai berikut:
    • Hasil seleksi Administrasi direncanakan diumumkan pada tanggal 22 Oktober 2010;
    • Pelamar yang lulus Seleksi Administrasi diberikan Tanda Peserta Seleksi direncanakan dibagikan pada tanggal 25 s.d. 28 Oktober 2010.
    • Tempat pengambilan Tanda Peserta Seleksi diumumkan melalui website Kementerian Perhubungan dengan alamat: www.dephub.go.id.
  • Seleksi Tertulis, direncanakan pada tanggal 04 November 2010;
  • Seleksi Keahlian dan Keterampilan (Wawancara, Psikotes dan Focus Group Discussion) bagi peserta yang dinyatakan Lulus Seleksi Tertulis Tingkat Sarjana (D.IV, S1, S2) direncanakan pada tanggal 15-21 November 2010.
  • Nama Peserta Yang Lulus Tiap Tahapan Seleksi akan diumumkan melalui WEBSITE KEMENTERIAN PERHUBUNGAN dengan alamat www.dephub.go.id dan papan pengumuman yang ditunjuk pada kota/lokasi:

CPNS Kementerian Pendidikan Nasional Kemdiknas

  • Waktu pengumuman dari 8 sd 10 Oktober 2010.
  • Penerimaan Pendaftaran 11 sd 15 Oktober 2010.
  • Pengumuman pelamar yang lulus seleksi administrasi akan diumumkan
    • untuk pelamar online di alamat Web https://cpns.kemdiknas.go.id di lingkungan
      PTN dan Kopertis tempat melamar, dan dapat mencetak Kartu Tanda Peserta
      Tes.
    • untuk pelamar non-online mengisi biodata sekaligus memperoleh Kartu Tanda Peserta Tes.
  • Pelaksanaan di unit kerja, Kamis, 28 Oktober 2010
  • Pengumuman Hasil Ujian Tertulis:
    • untuk pelamar online di alamat https://cpns.kemdiknas.go.id dan di http://
      kemdiknas.go.id
    • untuk pelamar non online di unit kerja PTN dan Kopertis tempat melamar
      dan/atau di alamat https://cpns.kemdiknas.go.id
  • Tahap Ujian Substansi (Seleksi Tahap 2) – Pelaksanaan di unit kerja, 15 s/d 16 Nopember 2010
  • Pengumuman Final: Pengumuman final, 27 Nopember 2010:
    • di Web untuk pelamar online di alamat https://cpns.kemdiknas.go.id dan di http://kemdiknas.go.id
    • di unit kerja PTN dan Kopertis tempat melamar atau di alamat https:// kemdiknas.go.id

Kementerian Perindustrian Kemenperin

  • Jumlah formasi yang dibutuhkan 328 formasi
  • Pendaftaran/registrasi dimulai tanggal 1 September 2010 mulai jam 12.00 WIB dan ditutup pada tanggal 14 September 2010 jam 15.00 WIB
  • Pendaftaran pelamar dilaksanakan secara online melalui situs Kementerian Perindustrian : http://www.kemenperin.go.id/
  • Ujian Tahap I Tes Pengetahuan Umum (TPU) dan Tes Potensi Akademik (TPA) secara on line pada tanggal 18 September 2010.
  • Bagi yang telah dinyatakan lulus Ujian Tahap I (online), wajib melakukan Validasi Dokumen Administrastif pada tanggal 20 – 25 September 2010
  • Ujian Tahap II penyaringan CPNS dilaksanakan pada tanggal 4 Oktober 2010.
  • Hasil ujian Tahap I, II dan III serta wawancara diumumkan melalui situs Kementerian Perindustrian : http://www.kemenperin.go.id dan papan pengumuman Lantai Dasar Gedung Kemenperind Jl. Gatot Subroto Kav. 52– 53 Jakarta Selatan.

Kementerian Perdagangan

  • Jumlah formasi kebutuhan adalah 164 formasi
  • Setiap pelamar harus melakukan pendaftaran secara online melalui website Kementerian Perdagangan www.depdag.go.id
  • 1. Pengumuman rekrutmen 23 Agustus s/d 3 September 2010
  • 2. Pendaftaran online 1 s/d 3 September 2010
  • 3. Pengiriman berkas melalui PO BOX 2 s/d 6 September 2010
  • 4. Pengumuman lulus seleksi administrasi tahap I 20 September 2010
  • 5. Pengumuman lulus seleksi administrasi tahap II 27 September 2010
  • 6. Pengumuman lulus seleksi administrasi tahap III 1 Oktober 2010
  • 7. Pengumuman lulus seleksi administrasi tahap IV 7 Oktober 2010
  • 8. Pendistribusian Tanda Peserta Ujian tahap I dan II 2 Oktober 2010
  • 9. Pendistribusian Tanda Peserta Ujian tahap III dan IV 9 Oktober 2010
  • 10. Ujian Tertulis 12 Oktober 2010
  • 11. Pengumuman lulus ujian tertulis 19 Oktober 2010
  • 12. Psikotes dan Wawancara 25 s/d 28 Oktober 2010
  • 13. Pengumuman lulus dan diterima sebagai CPNS 15 November 2010

Bakosurtanal

  • Pelamar wajib memiliki alamat email yang aktif untuk mengikuti proses rekrutmen CPNS Bakosurtanal.
  • Pelamar harusmengisi formulir pendaftaran secara online melalui link pengadaan CPNS Bakosurtanal di alamat www.bakosurtanal.go.id atau langsung mengakses portal pengadaan CPNS di alamat http://cpns.bakosurtanal.go.id dan mengikuti tata cara pendaftaran di portal pengadaan tersebut pada periode 20 Agustus – 10 September 2010.
  • Mengirim berkas lamaran yang dokumennya telah diunggah pada saat pendaftaran online setelah mendapatkan nomor pendaftaran, dimasukkan dalam amplop coklat tertutup, dengan mencantumkan kode jabatan yang dilamar dan nomor pendaftaran pada sampul depan kiri atas amplop. Berkas ditujukan kepada Kepala Bakosurtanal, c.q Kepala Biro Keuangan, Kepegawaian dan Hukum (KKH), PO BOX 46-CBI Cibinong 16911. Berkas lamaran harus diterima panitia paling lambat tanggal 14 september 2010.
  • Info lengkapnya di situs bakosurtanal http://www.bakosurtanal.go.id

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Mengapa Orang Batak Jago Nyanyi?

Orang Batak jago nyanyi, wah itu sih sudah seantero Nusantara sudah tau. Indonesia Idol pada season pertama pernah merasakan kemegahan suara seorang Joy Tobing, selain itu ada banyak penyanyi top di negeri ini yang merupakan etnis Batak. Orang Batak, Manado, dan Ambon memang terkenal akan manisnya suara mereka.

Saya sendiri baru benar-benar percaya hal tersebut setelah bercokol di Medan. Ada satu hal yang saya rasakan sedikit berbeda antara misa di gereja saat di Jakarta dengan di Medan. Di Jakarta umatnya sangat banyak tapi suaranya cukup lantang setiap kali menyanyi. Sedangkan selama misa di Medan, saya kira umatnya jauh lebih sedikit setiap misa tapi suaranya itu loh…menggelegar! Bahkan tidak heran jika sebagian umat, yang kebanyakan memang orang Batak, masih terus bernyanyi atau bersenandung usai misa, saat melangkah keluar dari lapangan parkir atau menunggu angkot.

Saya menjadi cukup penasaran akan hal tersebut, apa sih yang bisa membuat suara orang Batak itu kencang-kencang, entah memang merdu atau lumayan merdu. Sebagai seseorang yang bergerak di bidang science, maka saya tertarik untuk melakukan observasi kecil-kecilan. Ketika sedang memiliki waktu luang di kamar ICU maka saya seringkali main ke unit radiology di rumah sakit kami. Disana saya mencari foto-foto rongten kepala yang dilakukan sepanjang hari. Sambil bertanya dengan spesialis radiologinya, saya mencoba mengumpulkan dan menyimpulkan foto-foto kepala pasien yang orang Batak. Dan tebak apa yang dapat kami (saya dan dokter radiology) simpulkan dari observasi amatir tersebut ? Ternyata orang-orang Batak kebanyakan memiliki rongga sinus wajah yang relative lebih besar daripada orang-orang pada umumnya.

Sebagai penjelasan, tulang wajah kita diciptakan oleh yang diatas tidak berupa tulang yang padat 100% melainkan di beberapa lokasi terdapat rongga kosong yang disebut sinus. Secara umum ada 4 pasang sinus di wajah kita yaitu sinus frontalis (dahi), maksilaris (pipi), ethmoidalis (hidung) dan sphenoidalis (dasar otak). Sudah lama hal tersebut diketahui di dunia medis tapi sudah lama pula kami tidak mengetahui dengan pasti apa fungsi rongga-rongga aneg tersebut, karena prinsipnya apa yang dibuat Tuhan tidak pernah tanpa penjelasan yang mengagumkan. Salah satu teori mengatakan bahwa sinus-sinus tersebut berperan penting dalam resonansi saat bersuara atau bernyanyi.

Dalam dunia tarik suara saya kira ada 3 hal dasar yang penting dimiliki oleh seorang penyanyi yaitu segi teknik menyanyi termasuk teknik pernapasan, timbre (warna suara) yang mungkin berupa bakat bawaan dan resonansi (segi organik atau anatomik). Resonansi ini sudah lama diduga berkaitan dengan suara-suara yang berdentang di dalam rongga-rongga sinus. Dan bisa jadi rongga sinus yang besar-besar dari rekan-rekan kita yang orang Batak membuat resonansi mereka jauh lebih baik sehingga suara mereka lebih menggelegar saat menyanyi. Tapi tentunya untuk benar-benar menjadi penyanyi kita tidak harus membutuhkan resonansi yang besar semata melainkan juga segi teknis dan juga timbre yang khas.

oleh: Leonardo Paskah Suciadi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Paratur ni parhundulon



Paratur ni parhundulon berarti posisi duduk, ini adalah salah satu istilah dalam ritual adat Batak, yang kemudian dimaknakan dalam kehidupan sehari-hari. Posisi duduk dalam suatu acara adat Batak sangat penting, karena itu akan mencerminkan unsur-unsur penghormatan kepada pihak-pihak tertentu. Karena yang menulis sumber-sumber bacaan ini, termasuk saya, kesemuanya laki-laki, maka ada baiknya kita memposisikan diri sebagai pihak laki-laki, agar nantinya mudah memahami berbagai struktur partuturon yang saya dan kita semua tahu, sangat rumit. Kepada ito-ito yang mungkin akan kebingungan, cobalah membayangkan seolah ito-ito semua adalah laki-laki dalam keluarga.

Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari, kekerabatan (partuturon ) adalah kunci pelaksanaan dari falsafah hidupnya, Boraspati ( baca boraspati di artikel saya selanjutnya, ini digambarkan dengan dua ekor cecak/cicak, saling berhadapan, yang menempel di kiri-kanan Ruma Gorga/Sopo/Rumah Batak ). Kekerabatan itu pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah, menentukan sikap kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik ( nice attitude ).

Kita selaku orang Batak berbudaya sudah menanamkan ini sejak dulu kala, kita tentu masih ingat petuah nenek moyang kita, seperti :

- Jolo tiniptip sanggar, laho bahen huruhuruan, jolo sinungkun marga, asa binoto partuturan ‘
- Hau antaladan, parasaran ni binsusur, sai tiur do pardalanan molo sai denggan iba martutur

Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ” ( Dalihan Na Tolu juga akan saya tuliskan lengkap pada kesempatan mendatang ). Adapun isi :

1. Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
2. Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
3. Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan

Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :
1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )

Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :
- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
- Tampulon aek do na mardongan sabutuha
- Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan

Yang dimaksud dengan boru :
1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
3. Namboru ni suhut
4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita
5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita ‘Amang’

Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :
- Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
- Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
- Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri
- Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana

Kata-kata bijak perihal bere :
Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang

Yang dimaksud dengan hulahula :
- Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
- Tulang
- Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
- Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit ). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
- Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
- Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( wow )

Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :
- Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.
- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
- Hulahula i do debata na tarida
- Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
- Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara
- Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora

Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi, kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )

A. Dalam keluarga satu generasi :
(1) Amang/Among : kepada bapak kandung
(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau ‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga
(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut )
(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat ke atas
(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas
(Note : sampai disini, kalau masih bingung, mari minum-minum kopi sambil merokok-merokok, atau minum-minum jus)

B. Dalam hubungan par-hulahula on
(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan ‘Amang’
(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya ‘Inang’
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni kepada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan generasi di atasnya

C. Dalam hubungan par-boru on
(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita
(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita

Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan emanggil kita:

amang,amangtua VS amanguda amang
inang, inangtua VS inanguda amang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
ompungboru ( bao ) VS amangbao
inang ( anggiboru ) VS amang
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS ompung
inang ( bao ) VS amang
inang ( parumaen ) VS amang
amang ( simatua ) VS amanghela
inang ( simatua ) VS amanghela
tunggane VS lae
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS amangboru
nantulang na poso VS amangboru
bere VS tulang
ito VS ito
parumaen/maen VS amangboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang

Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:
amang, amangtua, VS amanguda inang
inang, inangtua, VS inanguda inang
angkang VS anggi(a)
ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
ompungboru ( suhut ) VS eda
ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
ompungboru ( bao ) VS eda
inang ( anggiboru ) VS #####
anggia VS angkang
anggia ( pahompu ) VS #####
inang ( bao ) VS #####
inang ( parumaen ) VS inang
amang ( simatua ) VS inang
inang ( simatua ) VS inang
tunggane VS #####
tulang VS bere
nantulang VS bere
tulang na poso VS #####
nantulang na poso VS #####
bere VS nantulang
ito VS ito
parumaen/maen VS nanmboru
amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang

Beberapa hal yang perlu di ingat :
- Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso
- Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso
- Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya.

Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya pelanggaran adat yang dimaafkan. Misalnya begini : saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya. Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya ‘Amang’ karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya ‘Tulang rorobot’ karena perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya. Partuturon karena keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap panggil saya ‘Tulang’ dan si laki-laki harus tetap memanggil saya ‘Bapatua/bapauda’.

Sumber: Dari Berbagai Sumber


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Buram Dari Sebuah......

Tukeran Link(Copy Paste Kode ku ini)

Photobucket