Marhusor do anggo ngolu na satokkin on


RSS

sedikit belajar tentang adat BATAK


Angka Ulaon Di Paradaton Batak

Pamuli Boru / Pangolihon Anak

1. Mangaririt angka Naposo
2. Patua Hata (Hata Pangaririt) tu Natua tua
3. Parhusipon
4. Pesta Adat jala di Jakarta on di pesta Adat i nama marhata sinamot, pasahat sinamot dohot todoan todoan songni dohot pasahat ulos sian hula-hula tu Boru, dohot ulaon sadari, paulak une-tingkir tangga. Selesai sude ditutup ma dohot tangiang.

Angka Ulos sian Rajani Hula-Hula tu Raja Ni Boru

1. Ulos passamot (tu Natoras Anak)
1. Ulos Hela (Pengantin)
2. Ulos Amang Tuana (Pamarai)
3. Ulos amangudana (Simanggokhon)
4. Ulos Sihuti ampang (Boru/Paranak)
5. Dan seterusnya





Ulos Mula Gabe

Diberi nama dengan Ulos Mula Gabe adalah sebutan yang dibe rikan untuk sebuah Ulos yang akan diuloskan oleh Hula-Hula kepada Borunya. Disebut Ulos Mula Gabe karena kenyataannya, keluarga yang bersangkutan memang sedang menantikan hagabeon yaitu kelahiran anaknya yang pertama. Jadi seorang ibu menerima ulos Mula Gabe ini satu kali dalam hidupnya.

Pada zaman dahulu nama ulos ini biasa kita dengar dengan sebutan ulos Tondi, pada waktu nenek moyang kita belum mengenal Agama Kristen, karena keyakinan mereka bahwa ulos tondi itu adalah mengulosi tondi seseorang agar sehat dan mendapat keselamatan badan dan jasmani. Tetapi setelah kita sebagai orang Kristen yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruslamat kita, istilah ulos tondi sesuai dengan kepercayaan nenek moyang kita, sangat perlu kita tinjau kembali dan harus kita tinggalkan, Yesus Kristus lah yang memberi kesehatan dan keselamatan kepada kita.

Adapun pemberian dan penyerahan ulos mula gabe ini adalah bagian dari pelaksanaan adat/budaya Batak yang kita yakini tidak bertentangan dengan iman percaya kita sebagai orang Kristen dan dengan kehendak Allah. Boru dan Hela menerima ulos ini dengan iman bahwa ulos yang mereka terima itu adalah suatu pemberian kasih dari orang tua mereka menurut adat/budaya Batak.

Orang Kristen Batak Toba sekarang ini telah menyadari sepenuhnya bahwa ulos itu sendiri sama sekali tidak memiliki daya atau kuasa apapun untuk membuat ibu hamil tadi sukses dalam persalinannya. Kelancaran persalinan seseorang adalah mutlak anugrah Tuhan Allah didalam AnakNya Yesus Kristus sehingga persalinan si Ibu hamil bisa lancar. Bilamana seseorang wanita untuk pertama sekali mulai hamil, maka kira-kira pada bulan ke 7 kehamilan itu disebutlah dalam keadaan tumagam haroan atau matigora pamuro atau denggan pamatang. Kata-kata tersebut adalah istilah halus dan terhormat untuk menyebut keadaan seorang Ibu sudah dalam hamil. Setelah sudah dalam keadaan demikian, orang tua si suami (mertua) dari calon ibu, akan memberitahukannya kepada Hula hulanya, orang tua sicalon Ibu, cara pemberitahuan hal itu cukup luas dan hormat dengan mempergunakan istilah tersebut di atas.

Di masyarakat Batak kedudukan Hulahula lebih tinggi harkat kekerabatannya dibidang adat, karena Hulahula adalah orang tua dari istri yang berarti orang tua kita juga, yang harus dihormati, itulah alasannya Hulahula yang berkompeten pasahathon "ulos Mula Gabe" kepada borunya, yang akan melahirkan anaknya yang pertama. Tujuan pemberian ulos itu adalah semata-mata menunjukkan rasa kasih sayang orang tua kepada borunya dan sekaligus ingin membangkitkan semangat hidup dan percaya diri borunya tersebut dalam menghadapi persalinannya yang akan datang.

Manfaat yang diperoleh dengan pasahathon ulos mula gabe itu. Baik ibu-ibu zaman dahulu maupun ibu-ibu zaman sekarang yang akan melahirkan anak pertama pada umumnya mereka masih kuatir dan kurang percaya diri menghadapi persalinannya yang akan datang. Kekhawatiran mereka dapat dimengerti dan masih merupakan hal yang wajar, karena baru kali ini melahirkan, dapat saja terjadi bahwa seorang ibu yang hamil anak pertama yang tinggal di rumah mertuanya, ingin makan sesuatu makanan kesukaannya atau ingin memiliki sesuatu barang tertentu, tetapi yang hanya dapat dipenuhi oleh orang tuanya sendiri. Jika keinginannya tersebut tidak kesampaian, itulah yang disebut "TARHIRIM" atau "HIRANAN" yang dapat mengganggu kelancaran persalinannya kelak.

Mungkin akibat tempat tinggal yang berjauhan, si Ibu yang sudah hamil tua untuk anaknya yang pertama, diliputi kerinduan yang sangat dalam karena selama sekian bulan, setelah kawin belum pernah ketemu dengan orangtuanya dan saudara-saudaranya yang lain. Jadi kedatangan Hulahula dan rombongannya menjenguk boru dan helanya yang sekaligus pasahat ulos mula gabe merupakan jalan keluar dari hal-hal diatas yaitu: Disamping bawaan resmi menurut adat budaya Batak sudah pasti Hula-hula juga membawa makanan kesukaan borunya selama ini dan suatu barang tertentu yang diingini hatinya.

Dengan demikian sukacita anak itu makin bertambah sehingga semangat hidupnya kembali seperti semula. Setelah borunya yang sudah hamil tua tersebut bertemu dengan orangtuanya sendiri, bapatua/inangtua, amanguda/ inanguda, tulang/ nantulang, namboru, kakak/ adiknya timbul sukacita yang luar biasa dalam hidupnya. Rasa khawatir dan kurang percaya diri yang menghantui pikirannya selama ini hilang sama sekali. Didorong oleh rasa kerinduan kedatangan hula-hula, beserta rombongannya disambut oleh orangtua dan kerabat pria, sebagaimana layaknya menyambut Hulahula menurut adat istiadat/ budaya Batak.

Hulahula yang rombongan yang datang pun yang menjenguk boru dan helanya dalam acara khusus seperti ini tidak terlepas dari adat dan budaya Batak, sudah pasti mempersiapkan bahan-bahan adatnya yang akan disampaikan kepada boru dan helanya. Orangtua/kerabat suami, telah mempersiapkan acara pasahat ulos mula gabe ini dengan persiapan-persiapan seperlunya dan seterusnya mengundang kerabat keluarga terdekat untuk hadir pada acara ini.

Karena acara ini akan dilaksanakan dalam nuansa ke Kristenan dalam bentuk pengucapan syukur, karena orangtua kita sadar bahwa Tuhan Allah telah berkenan memberkati kandungan menantunya. Sudah tentu diundang seorang Hamba Tuhan (Pendeta atau Sintua) yang menyiram acara ini lebih dahulu dengan Firman Tuhan.


Setelah selesai acara kebaktian pengucapan syukur, tibalah saatnya kepada acara pokok, yaitu menyampaikan "Ulos Mula Gabe", oleh hula-hula kepada boru dan Helanya. Disampirkan ulos itu ke atas bahu boru dan helanya, juga dengan meletakkan beras sipir ni tondi ke atas kepala boru dan helanya itu. Orang tua yang menyerahkan "Ulos Mula Gabe" ini tentu disertai Doa restu permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai berikut:
Di ginjang do arirang
Di toru panggonggonan
Badanmuna na so jadi sirang
Tondimu sai hot masigomgoman

Bintang na rumiris
Ombun na sumorop
Anak pe riris
Boru pe torop

Dangka ni hariara
Tanggo pinangaitaithon
Sai tubu ma anak dohot boru
Sitongka ma panahitnahiton

Sahat-sahat ni solu
Sahat ma tu bontean
Sahat ulos Mula gabe tu hamu
Sai leleng ma hita mangolu
Sahat ma horas, sahat ma
Tu panggabean, Boti ma.

Setelah selesai acara menyampaikan Ulos Mula Gabe dilanjutkanlah acara makan bersama, maka hulahula memberi boru dan helanya makan khusus yang dibawanya, yaitu dengke sitiotio, dengke simudurmudur dengan harapan dari orang tuanya kiranya Tuhan berkenan memberkati Boru dan Helanya, agar tiotio haroan (persalinan) yang akan datang dan agar mereka berdua seia sekata dalam perjalanan hidup mereka (mudurudur). Acara makan bersama ini tentunya ditutup dengan Doa.

Menurut kebiasaan pemberian Ulos Mula Gabe ini dilakukan parnangkok ni mata ni ari artinya pada waktu matahari sedang naik jadi sebelum jam 12.00 WIB siang. Falsafahnya adalah merupakan doa, agar nasib dan keadaan anak yang akan lahir juga semua keturunan dari sipenerima Ulos Mula Gabe ini kiranya semakin naik seperti matahari.

Dahulu kala yang ikut menyerahkan ulos tersebut hanya Suhut Bolon maksimal disertai 3-4 keluarga terdekat, dan yang menyambut kedatanganpun Suhut Bolon Paranak cukup didampingi 3-4 keluarga terdekat. Jadi segera setelah pemberian ulos dapat dilanjutkan dengan acara makan bersama. Tetapi akhir-akhir ini yang ikut menghadiri acara demikian sudah cukup meluas, sampai 10-20 keluarga dari masing-masing pihak. Keluarga semua keluarga bisa dapat hadir pada waktu yang ditentukan tidak menjadi masalah.

Tetapi sudah menjadi kenyataan akhir-akhir ini pada pelaksanaan acara adat semakin dibiasakan untuk datang terlambat, ada sampai 1-2 jam yang pengaruhnya ialah jamuan makan terpaksa juga diundurkan menunggu para undangan. Namun keadaan demikian, sebaiknya tetap diusahakan agar penyerahan Ulos Mula Gabe, pada waktu parnangkok ni mata ni ari jadi sebelum jam 12 siang, agar falsafah dan arti pemberian ulos itu tetap kelihatan dan dirasakan, tidak perlu menunggu sampai semua undangan hadir, sebab yang pokok adalah pemberian Ulos Mula Gabe. Masalah makan adalah soal kedua dapat dilanjutkan beberapa waktu kemudian.

Mengenai jenis Ulos Mula Gabe ada juga yang memberikan ulos Mangiring dengan harapan seiring dengan pemberian ulos ini diharapkar, kelak agar hadir pula adik-adiknya sebagai temannya seiring dan sejalan. Ada pula yang memberikan Ulos Bintang Maratur yang menggambarkan jejeran bintang yang teratur, dengan harapan sebagai bintang yang teratur itu dapat hendaknya kelahiran anak laki-laki dan perempuan berjejer akan kelahirannya. Dalam menentukan jenis Ulos Mula Gabe ini, si calon Ibu bisa juga menyampaikan keinginannya yang mana yang lebih disukai dan biasanya keinginan itu akan disetujui oleh orangtua.
Parbogason / Perkawinan
Parjojor ni Siulaon

1. Mangarisik-risik

Masioloan naposo (anak dohot boru naeng mamungka pardongan saripeon).

1. Dipasahat tu natorasnabe, jala sipangoli disangkap nasida i.
2. Paranak marsuru utusanna (somalna sian boru) tu huta ni parboru, jala parboru (utusanna tong do sian boru) laho mangarangrangi ulaon adat. Utusan ni paranak dohot parboru digoari mai "domu-domu". Domu-domu ma na patolhashon hasil ni pangkataionnasida tu paranak dohot parboru di rumang ni siulaon na mangihut, i ma:
1. Dialap jual ulaon di huta ni parboru manang ditaruhon jual (ulaon dihuta ni paranak)
2. Godang ni sinamot
3. Godang ni ulos herbang

Dung adong kesepakatan pangkataion, diuduti ma dohot ulaon :

1. Patuahon pangkataion dohot marhusip
2. Martumpol
3. Marhata sinamot
4. Martonggo raja dohot marria raja
5. Pesta marunjuk (pesta parbagason)
6. Ulaon sadari : Maningkir tangga dohot paulak une.

Patuahon pangkataion dohot marhusip

Dijabu ni parboru do dipatupa ulaon na patuahon pangkataion dohot na marhusip. Paranak rap dohot dongan tubu dohot boru borhat tu huta ni parboru. Parboru , dohot dongan tubuna, boru dohot donga sahuta manjangkon haroro ni paranak.

Paranak pasahathon boan-boan nasida tu parboru (indahan dohot pinahan lobu lengkap dohot na margoar) Parboru pasahat dengke simundur-undur tu paranak.
Tangiang laho mangan sian paranak, Sidung marsipanganon parboru manungkun tariongot tu tudu-tudu ni sipanganon binoan ni paranak.

Jala dialusi parhata sian paranak ma na songon surung-surung ni parboru do i. Ndang mambagi jambar ditingki i, alai dung sidung sude pangkataion, paranak mulak tu hutana, parboru mambari tudu tudu ni sipanganon i tu dongan tubuna, boru dohot donga sahuta. Ditingki na mulak paranak, parboru pasahat jual ni paranak na marisi boras dohot dengke.
Masisisean

Raja parhata ni parboru manungkun sangkap haroro ni paranak, jala raja parhata ni paranak mangalusi sungkun-sungkun ni parboru i ma na laho patuahon angka pangkataion, ala naung masihaholongan angka naposo. Raja Parhata ni parboru marsuru sian borunasida laho patangkashon tu nanaeng si boru muli manang naung tutu do alu-alu ni anaknasida tu natorasna, jala dung dipaboa naung tingkos do naposo masihaholongan, digabehon parboru ma na patuahon pangkataion i.

Catatan : Raja parhata i ma na mangulahon pangkataion di sada ulaon sian na mamulai sahat tu na mangunjungi.
Raja parhata i ma raja na menguasai ruhut-ruhut paradaton ni halak Batak.
Dung sidung na patua hata, diuduti ma dohot na mangarangrangi siulaon na mangihut, didok ma i marhusip. Di tingki na marhusip, nunga sude dirangrangi rumang ni Siulaon i ma:

1. Ise na manghasuhuthon ulaon i, paranak manang parboru. Molo parboru do na manghasuhuthon ulaon didok ma i dialap jual, jala molo paranak do na manghasuhuthon didok ma i ditaruhon jual.
2. Godang ni sinamot (sitombol manang rambu pinudun)
3. Suhi ni Ampang na opat ni parboru, sialusan ni paranak manang panandaon.

Molo sialusan ni paranak do, hepeng sian paranak tu suhi ni ampang na opat. Molo panandaion do, sebagian sian sinamot disisihkan parboru laos dipasahat tu paranak, asa dipasahat nasida tu suhi ni ampang na opat ni parboru.

1. Godang ni ulos herbang.
2. Pinggan panganan tu parboru, suang songon i ulos tinonun sadari tu paranak, asa masialusi horongna be.
3. Martumpol : tanggal, tingki, inganan.
4. Pamasumasuon, tanggal, tingki, inganan.
5. Marsibuhai buhai.
6. Godang ni undangan.
7. Ulaon sadari : Maningkir tangga dohot paulak une.
8. Ingot-ingot (hepeng) : sian paranak dohot parboru
9. Marhata sigabe-gabe : parboru
10. Mangampu : Paranak

Dung rimpun sude rumang ni siulaon i dihatai, ditutup ma dohot tangiang. Andorang so ditutup, dijou ma calon penganten asa rap martangiang. Sidung martangiang, calon penganten manjalang situan na torop.
Martumpol

Ditingki na marhusip nunga ditontuhon tingki na martumpol (ari, tingki, gereja). Di ari partumpolon i, paranak dohot parboru dohot sude na niontang ni na dua hasuhuton borhat tu gereja mangadopi ulaon partumpolon i.

Paranak dohot anak mangoli borhat tu huta ni parboru asa rap nasida tu gereja. Dung dapot tingkina dimulai ma cara partumpolon niuluhon ni pandita manang situa.
Sidung acara partumpolon, parhalado ni huria mangalehon tingki tu paranak dohot parboru mandok hata huhuasi :

1. Mandok mauliate tu pandita/parhalado, dohot tu sude tondong na mangadopi ulaon partumpolon i.
2. Mangido asa rap udur tu jabu ni hasuhuton tu ulaon.

Tonggo Raja manang Ria Raja (Tonggo Raja dibagas ni parboru; Ria Raja dibagas ni paranak).
Sidung mandok hata huhuasi, parhalado mangalehon tingki tu na hadir laho manjalang calon penganten. Ditingki manjalang, calon penganten ndang pola diapit natorasna be. Sidung na masijalangan, marpungu ma di inganan naung ditontuhon ni parboru mangan lampet dohot minum aek sitio-tio.
Marhata Sinamot

Di huta ni parboru do ulaon na marhata sinamot. Di ulaon marhata sinamot nunga marpungu disi na niundang ni paranak dohot parboru i ma dongan tubu, boru, bere/ ibebere, dongan sahuta, pariban, aleale, songon i nang hula-hula dohot tulang.

Dung renta hundul sude na niundang i, manungkun ma raja parhata ni parboru tu raja parhata ni paranak manang naung boi ulaon i mulaan.
Raja parhata ni paranak mangalusi, na uli ma tutu rajanami nunga boi tamulai.
urutan ni siutaon :

1. Paranak pasahat tudu-tudu ni sipanganon tu parboru, huhut dihatahon hata ni tudu-tudu ni sipanganon.

Parboru pasahat dengke simudur-udur tu paranak, huhut dihatahon.

1. Martangiang laho marsipanganon; sian paranak.

Paranak manghatahon huhuasi ni sipanganon :
Sititi ma sihompa, golang-golang pangarahutna
Otik so sadia na tupa, sai godang ma pinasuna;
Marjomuk ma hita.

1. Ditingki mangan, paranak pasahat sulang-sulang tu parboru huhut dihatahon, husulang ma raja i, manumpak ma tondina, manumpak sahalana.
2. Suhut paranak dohot suhut parboru manopot sude na niotangna huhut dihatahon butong hamu mangan.
3. Membagi parjambaron juhut, tudu-tudu ni sipanganon i dibagi dua, satonga dipasahat tu paranak, satonga diparboru. Ihur himpal do i di parboru.
4. Paranak dohot parboru mambagi jambar juhut i tu ganup horongnasida be.

Partonding ni parjambaron

1. Marmiak-miak (pinahan lobu)

Goar ni jambar Paranak Parboru

1. Na marngingi Parhambirang Parsiamun

2. Soit 2 (dua) 2 (dua)

3. Somba- somba Satonga Satonga

4. Osang Satonga Satonga

5. Ihur-ihur _ Himpal songon ulak ni jual

Dideba luat, osang i hibul doi dipasahat tu parboru, laho sipasahaton nasida tu hula hula na.

1. Sigagat duhut (horbo manang lombu) inatinutungan

Dos do pambagian parjambaron songon pinahan lobu.
Dung sidung na mambagi jambar juhut, dipungka manghatai.
Masisisean

Parhata sian parboru (PRB)
Parhata sian paranak (PRA)

PRB:

Mangido asa dipasahat paranak Pinggan Panungkunan. Pinggan panungkunan i ma pinggan na marisi boras si pir ni tondi, demban/napuran sirara urung, tanggo-tanggo, dohot ringgit/hepeng 4 (opat) lembar. Dipasahat raja parhata ni paranak ma pinggan panungkunan i (boru do na pasahathon) tu raja parhata ni parboru. Dung dihatahon hata ni pinggan panungkunan dohot na manungkun di hata ni sipanganon, dibuat ma 3 (tolu) lembar hepeng i, laos dipaulak ma pinggan panungkunan i tu raja parhata ni paranak (boru do na manaruhon).

PRA:


Dung dijalo mulak pinggan panungkunan i asa dialusi sungkun-sungkun ni parboru taringot di sintuhu ni sipanganon i ma Panggabean Parhorasan.

PRB:


Patangkashon disiangkup ni na uli si dongan ni na denggan dipanggabean parhorasan.

PRA:


Na pasahat sinamot songon somba ni uhum, somba ni adat dohot mangulahon adat na gok.

PRB:


Mangalusi hata ni paranak, mangido asa dihatahon godang ni sinamot sipasahaton ni suhut paranak.

PRA:


Mangido asa sisahali manombahon/mangelekhon paranak disinamot sipasahaton, Sinamot sipasahatonasida i dielekhon ma asa sitombol manang rambu pinudun.

PRB:


Manungkun di suhi ni ampang na opat ni parboru, sialusanni paranak do manang panandaion.

PRA:


Tung tangkas do alusannami/panandaion di suhi ni ampang na opat ni raja i.
Molo sialusan ni paranak do suhi ni ampang ni parboru, todoan/hepeng sian paranak.
Molo panandaon do, parboru mangalehon sebagian sian sinamot i, dipasahat ma hepeng i tu paranak, asa dipasahat paranak tu sijalo todoan ni parboru.

PRB:


Dipaliat panghataioni tu raja niboru, tu dongan tubu, huhut mangido panuturionsian horong hula-hula dohot tulang.

PRA:


Dipaliat pangkataion tu raja niboru, dongan tubu, huhut mangido panuturion sian horong hula-hula dohot tulang, Sidungi dipaboa ma godang ni sinamot sipasahaton.

PRB:


Pasahathon pangkataion i tu hasuhuton di godang ni sinamot jala molo dung diolophon hasuhutan, baru pe asa digabehon raja parhata.

PRA:


Suhut paranak pasahathon sinamot tu suhut parboru.

PRB:


Manggorahon Suhi ni Ampang na Opat. Sada-sada digoari sijalo todoan, jala suhut paranak ma na pasahathon. Suhi ni ampang na opat i ma.

1. Pamarai : haha manang anggi ni hasuhuton
2. Simandokkon/simolohon : lboto ni boru muli naung hot ripe
3. Pariban
4. Tulang

PRA:


Mangido asa dipasahat suhut parboru "tintin marangkup" i ma songon todoan ni tulang ni anak mangoli. Suhut parboru pasahathon tintin marangkup/hepeng tu tulang ni anak mangloli, diudurhon suhut paranak laos dihatahon ma, nunga be hujalo hami sinamot ni borunta i, hami ma tutu songon pangintubu, hamu ina painundun, otik so sadia sian sinamot na hujalo hami i pasahatongku ma nuaeng tu hamu, las ma rohamu manjalo. Tung otik pe i sai godang ma pinasuna.

Mamasu masu ma tondimu dohot sahalamu marhite tangiang tu Tuhanta asa sahat horas jala gabe borunta i. Botima; laos dipasahat ma jambar ni tulang ni hela. Dung di alusi tulang ni hela, mulak ma suhut parboru dohot paranak tu hundulannasida (hepeng, sipasahaton i sian suhut paranak do i dohot sian suhut parboru dohot perbandingan 2: 1). Dung sahat tintin marangkup tu tulang ni hela diuduti ma muse dohot na mangido ulos herbang. Rajanami ndang marsambariba adat songon bulung ni motung, sisoli-soli do uhum, siadapari do gogo. Asa dos nangkokna dohot tuatna, nunga hupasahat hami sinamot tu hamu rajanami, nuaeng pe ba ulosi hamu ma hami, jala sude ma hami na mardongan tubu dohot borunami ulosi hamu dohot ulos herbang.
Catatan :
Todoan tu tulang ni anak mangoli didok tintin marangkup, sasintongna "titi marangkup" do. Titi i ma jambatan penghubung sian sada huta na sadanari. Suang songon i ma pardalan ni siulaon i, ala bere ni tulangna i manopot boru na so boru ni tulangna, gabe ro ma hata ni parboru tu tulang ni anak mangoli na gabe sisada boru ma nasida, parboru ma pangintubu jala tulang ni anak mangoli ma painundun.

PRB:


Gabe ma tutu jala horas amangboru, tingkos do nidokmuna i, nunga hujalo hami be tutu sinamot na gok sian hamu, jala dipangido hamu asa ulosannami hamu dohot ulos herbang, nian sude do hamu amang boru ulosannami dohot ulos herbang, alai manang na sadia na tupa ulos herbang sipasahatonnami tu hamu, gohannami ma i dohot ulos tinonun sadari (hepeng). Godang ni ulos herbang sipasahaton ni parboru tu paranak nunga ditontuhon hian i ditingki na marhusip.

PRA:


Gabe ma tutu jala horas, alai pangidoannami rajanami, asa pasahat hamu ma i ditingki ulaon unjuk.

PRB:


Denggan ma i raja ni boru, hupasahat hami pe i di ulaon unjuk.

PRA:


Pinasahat ma muse pangkataion tu hamu rajanami, asa pasu-pasu hamu hami raja ni borumuna.

PRB:


Mangalehon/pasahat hata pasu-pasu dohot hata si gabe-gabe.

1. Horong hula-hula dohot tulang
2. Boru/Bere
3. Dongan Tubu
4. Hasuhuton

PRA:


Andorang so mangampu paranak, dilehon tingki tu hula-hula dohot tulang pasahat hata pasu-pasu hata gabe-gabe mangampu :

1. Boru/Bere
2. Dongan Tubu
3. Hasuhuton

Sidung mangampu paranak, dipasahat ma muse tingki tu parboru asa ditutup ulaon i dohot tangiang andorang so ditutup dohot tangiang, mtrdalan ma olop-olop (hepeng sian paranak dohot parboru). Dung diolphon 3 x, dibagihon ma olop-olop i tu na torop.
Martonggo Raja/ Maria Raja

Martonggo raja manang maria raja di ulaon unjuk (pesta perkawinan) i ma mangontang dongan tubu, boru, bere, dohot dongan sahuta laho paboahon sangkap ni hasuhuton. Diparade hasuhuton do sipanganon, jala molo adong do tudu-tudu ni sipanganon, dung jolo dihatahon, dipasahat ma i tu hahadoli/anggidoli ni hasuhuton.

Sidung marsipanganon dimulai ma na manghatai.
Hasuhutori, paboahon rumang ni siulaon, jala mangido pangurupion sian nasida, asa mardalan ulaon i sudena dohot denggan.

Dung diolophon situan natorop diuduti ma tu pembagian tugas. (Raja parhata sian hahadoli manang anggidoli ma na mangulahon) :

1. Manjalo haroro ni paranak tingki sibuha-buhai.
2. Sijalo boras, dengke siuk dohot kado
3. Manjalo haroro ni hula-hula dohot tulang
4. Pembagian undangan.
5. Dongan tubu boru dohot bere ni hasuhuton
6. Dongan sahuta
7. Ale ale/teman sejawat
8. Pariban
9. hula-hula/tulang

Dung sidung na marhata, diujungi ma ulaon i dohot marhata sigabe-gabe, jala dung diampu suhut ditutup ma dohot tangiang. Suhut pasahat jambar juhut tu na ro.
Catatan : Molo ulaon horja manang ulaon na asing, ndang holan na diginjang : be diontang alai nunga dohot hula hula dohot tulang.

Pesta Marunjuk (Pesta Parbagason)

Ari dohot tingki pamasu-pamasu nunga ditontuhon hian ditingki na marhusip. Di mata ni pesta pamasu masuon, andorang so borhat tu gereja, borhat ma paranak tu huta ni parboru huhut mamboan sipanganon i, ma na ginoaran si panganon sibuha-buhai, asa buha parsaulian, parhorasan dohot panggabean. Dung peak jual inganan ni sipanganon i dijolo ni parboru jalo do sidigati jala didai.

Andorang so marsipanganon, paranak manghatahon huhuasi ni sipanganon, parboru pasahathon dengke sitio-tio. Tangiang laho marsipanganon sian paranak.

Ndang marhata sigabe-gabe ditingki i, alai ditutup parboru ma dibagasan tangiang, i pe asa borhat tu gereja. Di gereja nunga torop hadir na niontang ni paranak dohot parboru Dung sahat penganten di gereja, langsung tu konsistori diudurhon paranak dohot parboru laho manandatangani catatan sipil.

Sian konsistori niuluhon ni pandita masuk tu gereja, tu acara pamasu-masuon.
Sidung acara pamasu-masuon, parhalado mangalehon tingki tu paranak dohot dohot parboru i.
Mandok mauliate tu parhalado dohot na ro, huhut magidohon asa rap borhat tu inganan unjuk na pinaraade ni hasuhuton, Marfoto dohot penganten.

1. Parjoto pandita dohot penganten
2. Notaras ni anak mangoli dohot boru muli
3. Sisolhot

Sidung na marfoto, rap udur ma borhat tu inganan parpestaan. Diinganan naung diparade.
Naniotang manjalang pengenten.
Raja parhata ni paranak dohot parboru manggorahon inganan naung diparade tu dongan tubu, hula-hula dohot tulang.
Dipintu masuk inganan parpestaan sabola siamun dohot hambirang nunga rade parhobas manjalo boras, dengke siuk dohot kado.
Dung dapot tingki marsipanganon, raja parhata ni parboru manungkun tu raja parhata ni paranak manang naung boi mulaan. Raja parhata ni paranak mangalusi nunga boi be dimulai.
Andorang so marsipanganon dimulai ma acara dohot urutan :

1. Paranak pasahat tudu-tudu ni sipanganon tu parboru
2. Parboru pasahat dengke simudur-mudur tu paranak.

Tangiang laho mangan sian paranak. Dung sidung tangiang marsipanganon, paranak manghatahon huhuasi ni sipanganon;
Sititi ma sihompa, golang-golang pangarahutna.
Otik so sadia na tupa, sai godang ma pinasuna; marjomuk ma hita.

1. Paranak pasahat sulang-sulang tu parboru huhut dihatahon : Husulang ma raja i, manumpak ma tondimuna, manumpak sahalamuna.
2. Parboru manggorahon angka dengke siuk na ro.
3. Paranak dohot parboru manopot situan natorop niontangnasida laos ihatahon, butong-butong hamu mangan.
4. Mambagi perjambaron juhut. (Dos do dohot tingki na mambagi arjambaron juhut tingki na marhata sinamot).
5. Manjalo tumpak. Paranak mangido tingki tu parboru laho manjalo umpak. Sidung manjalo tumpak, paranak mandok hata mauliate, undangan ni paranak do na pasahat tumpak, undangan ni parboru mamboan boras sipir ni tondi.

Manghatai (Masisisean)

Dung renta hundul na dua hasuhuton paranak dohot parboru, songon i nang hula hula dohot tulang, dimulai ma na manghatai.
Masisisean
PRA : Parhata sian paranak
PRB : Parhata sian parboru

PRB :

Gokkon di sipaimaon, joujou sialusan, nunga hundul hita di amak tiar, tiar ma antong panggabean, parhorasan dihita sudena, nunga bosur hita, manganhon indahan na las jala sagat marlompan juhut, pamurnas ma i antong tu daging, Saudara tu bohi, jala songon nidok angka situa-tua, Sai jolo ninangnang do asa ninungnung, Sai jolo pinangan do asa sinungkun, asa nuaeng pe amangboru dia ma langkatna, dia unokna, dia hatana jala dia na nidokna, ba dipaboa amangboru ma.

PRA :


Gabe ma tutu jala horas rajanami. Taringot di hata ni sipanganon, godang sibutong-butong, otik sipir ni tondi, tung so sadia pe sipanganon i, sai pamurnas tu pamatangmu, saudara tu bohi. Manumpak ma tondiumu, manuai sahalamu Alai Andorang so dipasahat hamu hata pasupasu tu hami, pangidoannami rajanami uloasi hamu ma hami parjolo dohot ulos herbang.

PRB :


Amangboru, ianggo pasupasu i sai na lehononnami do tu hamu parboruonnami, alai andorang so hupasahat hami pasupasu i, jolo hupangtangkas hami jolo suhutnami manang naung olat ni dia naung margarar dibahen hamu.
Paidua ni hasuhhoton: Tingkos do na pinaboa raja parhata ni amangborunta i.
Nunga dialusi paidua ni hasuhutonnami naung sintong do na nidokmuna i amangboru, on pe mangarade ma hamu asa hupasahat hami ulos herbang, gorai hamu ma amangboru.

PRA :


Mauliate rajanami
Urutan sijalo ulos herbang :

1. Ulos Pansamot : Natoras ni anak mangoli
2.
Ulos Hela : Anak mangoli dohot boru muli (penganten)
3.
Ulos tu pamarai : Haha manang anggi suhut paranak
4.
Ulos tu pamarai : Iboto manang nambaoru ni anak mangoli
5.
Sijalo ulos herbang na mangihut, nunga ditontuhon suhut paranak hian urutanna.
6.
Ulos tu punguan sa-ompu dohot ulos tu punguan se Jabotabek, pangunjungi ma dipasahat dung sae sude keluarga ni suhut paranak manjalo ulos herbang. Dung sae sude keluarga ni hasuhuton paranak dohot punguan manjalo ulos, dipasahat raja parhata ni paranak ma pangkataion tu raja parhata ni parboru, laho mengalehon tingki mangulosi penganten.

PRA :


Ditingki mangulosi penganten, parjolo ma ;

1. Parboru
2. Dongan sahuta, pariban, dan
3. Punguan sa ompu dohot punguan sejabotabek
4.
Tulang (bona ni ari, bona tulang, tulang/rorobot, tulang)
5.
Hula-hula (hulahula na marhaha maranggi, hula-hula ni anak manjae, hulahula).

Sidung sian horong parboru mangulosi, raja parhata ni parboru pasahathon pangkataion tu raja parhata ni paranak.

PRB :


Mangalehon tingki tu tulang dohot hula-hula mangulosi penganten.
Catatan :

1.
Molo na pangolihon anak, ulos herbang sipangidoon sian parboru godangna 17 (sepuluh pitu) lembar, molo diroha ni suhut paranak hurang dope godang ni ulos i, tambana unang ma lobi sian 50% manang 8 (ualu) lembar.
2.
Molo pamulion boru, unang ma nian ulos sadum dipasahat, alai ulos ragihotang manang sirara ma.
3.
Hasuhuton; paidua ni hasuhuton dohot sian Punguan ma nian na pasahat ulos herbang.

Na mardongan tubu dohot boru, songon pangganti ni ulos herbang manang dengke, hepeng ma dipasahat, pengurus ni punguan ma na mambahen daftar isian, daftar isian i sipasahaton ni punguan ma i tu natoras ni boru muli jala hepeng na pinapungu i dipasahat tu boru muli. Dung sidung horong tulang dohot hula-hula ni paranak pasahat ulos herbang, raja parhata ni paranak pasahaton tu raja parhata ni parboru laho mangalehon hata pasu-pasu hata sigabe gabe.

PRB :


Mandok hata pasu-pasu/sigabegabe :

1. Bona
2. Dongan sahuta, aleale
3. Tulang
4. Hulahula
5. Dongan tubu
6. Suhut parboru

Mangampu

Andorang so mangampu suhut, parjolo tinggi dilehon tu tulang dohot hula-hula mangalehon hata pasu-pasu, hata sigabegabe. Magampu:

1. Boru
2. Paidua ni hasuhuton
3. Suhut Paranak
4. Penganten

sidung mangampu hasuhuton paranak, dipasahat ma muse tingki tu parboru asa ditutup ulaon i dibagasan tangiang.
Andorang so ditutup dohot tangiang, mardalan ma olop-olop. Dung diolophon 3 (tolu) hali, diparis ma olop olop i tu na torop. Di na laho mulak paranak, parboru paulak jual ni paranak na marisi indahan dohot dengke.
Catatan :

1. Pada umumna di Jakarta, ditingki pesta unjuk (pesta perkawinan nunga dipasada ulaon marhata sinamot dohot ulaon sadari (maningkir tangga dohot paulak une)).
2. Olop-olop : Paranak dohot parboru pasahat hepeng tu raja parhata, jala dung dibagi dua, raja harhata ni parboru pasahathon bagian ni paranak.

Diolophon ma 3 (tolu) hali olop-olop, diparisma tu natorop.

1. Ulaon sadari

Maningkir tangga : Parboru borhat tu huta ni paranak, mamboan boras sipir ni tondi dohot dengke, paranak patupa sipanganon, Dung sidng marsipanganon, pasahat hata pasu-pasu, hata sigabegabe, paranak mangampu, dung diujungi ma ulaon i dohot tangiang ndang mambagi parjambaron ditingki i.

1. Paulak Une : Dung hira-hira 7 (pitu) ari boru muli dibagas ni simatuana, paranak rap dohot parumaenna borhat tu huta ni hula-hulana (parboru), digoari ma i mebat manang paulak une. Mamboan sipanganon do paranak, parboru patupa dengke.

Dung sidung marhata sigabegabe, jala dung diampu paranak, diunjungi ma ulaon i dohot tangiang Ndang mambagi parjambaron ditingki i.
Umpama / Umpasa

Godang do angka umpasa na pinatomu-tomu ni ompunta na parjolo i ditingki na pangolihon anak manang pamulihon boru dohot di angka ulaon adat na asing, Deba sian angka umpasa i nienet jala pinamasuk tu buku on.
Marhata Sinamot/Manjalo Sinamot

1. Gokkon do sipaimaon, joujou sialusan, d.u.
2. Tep tep di ninna mula ni godang

Ser ser do ninna mula tortor
Sungkun mula ni uhun
Sise mula ni hata, d.u.
Danggur ma danggur barat

Danggur tu duhut duhut
Nunga bosur hita na mangan
Mahap marlompan juhut
Ba boaboana dipaboa amanta suhut
Sai jolo ninangnang do asa ninungnung

Sai jolo pinangan do asa sinungkun
Dia ma nuaeng langkatna dia ma unokna
Dia ma hatana dia nidokna
Taringot tu sipanganon, godang sibutong-butong, otik sipir ni tondi

Pamurnas ma i tu pamatangamuna, saudara tu bohi
Sititi ma sihompa golang-golang pangarahutna
Tung sadia pe i nuaeng, tung godang ma pinasuna.
Binanga ni Sihombing, na binongkak ni Tarabunga,

Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua,
Sinur ma pinahan, gabe na niula.
Bona ni aek puli di dolok ni sitapongan.

Sai tubu ma di hamu angka na uli
Sai lam tamba manang pansamotan
Ranting ni bulu duri jait masijaotan

Siangkup ni na uli, dia ma nuaeng sitaringotan
Pitu lilina paualu jugiana

Na uli do nipina ala dijangkon borumuna do anaknami
(Na uli do nipinami, ala gohanmuna ma gajutnami)
Ndang tuktuhan batu, dakdahan simbora

Ndang tuturan datu, ajaran na marroha
Pat ni gaja do hamu tu pat ni hora

Anak ni raja do hamu, pahompu ni na mora
Barita ni lampedang na solot di bulung bira

Barita ni raja i sahat/targebe do rodi dia.
Lubuk sigura-gura denggan do panjalaan

Nunga sai mangigil hula-hula, olat ni na boi ba tinambaan.

1. Sinuan bulu sibahen na las, sinuan partuuturon sibahen na horas
2. Durung do boru, tomburan hula-hula

Ingkon do porsanon ni boru, siporsanon ni hula-hula
Nidurung pora-pora ala so adong be sibahut

Naeng mangarupi ninna roha, hape so ada isi ni hajut.
Hudali ni pangula sinimpan dipara-para

Molo nioloan hata ni hula-hula sai dao ma nasa mara
Sai manumpak ma tondimu, manuai sahalamu,

Jala sai mamasu-masu ma Tuhanta Debata
Sai lam tamba di hami pansamotan asa adong bahenonnami Manubut nubut rohamu hula-hulanami.
Pusuk ni jabi jabi tu bulung ni simarlasuna

Tung otik pe sinamot na husombahon hami,
Sai godang ma pinasuna.
Lasiak na rata binahen tu panutuan

Raja pe na raja, sai suhut do sibahen putusan.
Bagot na marhalto ma na tubu di robean

Horas ma hami na manganhon,
Suang songon i ma nang mahu na mangalean.
Tangkas ma ninna uju purba, tumangkas ma uju angkola Tangkas ma na maduma, ba tumangkas ma na mamora.
Penganten
Hatubuan ni laklak, hatubuan ni singkoru

Hatubuan ni anak ma antong/borunami i di hamu jala hatubuan ni boru.
Andor halungkang ma togu-tou ni lombu

Andor rantiti togu togu ni horbo
Sai sarimatua ma antong hela dohot borunami.
Sian na marnini sahat tu na marnono.
Giring-giring ma gosta-gosta

Asi ma roha ni Amanta Debata
Sai tumibu ma hamu mangiring-iring huhut marompa-ompa
Bintang ma na rumiris tu ombun na sumorop

Anak pe di hamu riris, boru pe antong torop.
Dangka ni hariara ma tanggo ni pangait-aithon

Sai sorang ma dihamu anak dohot boru
Sitongka panahit-nahiton.
Tangki ma jala ualang, galinggang jala garege

Sai tubu ma di hamu anak partahi jala ulubalang
Dohot boru pareme.
Masiamin-aminan ma hamu songon lampak ni gaol

Masitungkol-tungkolan songon suhut di robean.
8. Asa saurdot songon panortor, sapangembal songon pardalan.
Mangampu
Tingko ma inggir-inggir, bulungna i rata-rata

Hata gabe-gabe, hata pasu-pasu na pinasahatmuna raja ni hula-hula nami.
Sai pasauthon ma Amanta Debata.
Aek na marjullak julla, marjullak jullak di tonga ni batu Jullak jullak nai pinamasuk tu tubu-tubu

Hata gabegabe, hata pasu-pasu pinasahatmuna raja ni hula-hula Ampuonnami ma i ditonga-tonga ni jabu.
Naung sampulupitu ma jumadi sampulu ualu

Hata gabe-gabe, hata pasu-pasu na pinasahatmuna raja ni hula-hula
Ampuonnami ma i di tonga ni jabu
Turtu ma ninna anduhur, tio tio ninna lote

Hata gabe dohot pasu-pasumuna i
Sai unang ma muba, sai unang ma mose.
Pasu-pasu dohot hata gabe na pinasahat muna rajanami.

Ampe ma i di sambubunami, tuak di abaranami,
Ampu di amuannami.
Sahat-sahat ni solu masa sahat tu bortean
Asi ma antong roha ni Amanta Debata
Ba sai sahat hita on saluhutna mangolu sahat tu panggabean.

Mangain Anak Manang Boru

Ditingki saonari on nunga adong manang na piga keluarga ni halak Batak na mangain (adopsi) anak manang boru. Latar belakang umbahen na mangain, ala :

1. Ndang adong anakna manang boruna.
2. Parumaen manang helana sian suku na asing.

Keluarga na marparumaen sian suku na asing, sai diparsinta rohana do parumaenna i marmargahon marga Batak (marga ni hula-hulana manang marga ni tulangna). Suang songon i do molo helana i sian suku na asing, asa gabe marmarga Batak (marga ni amangboruna). Dung sada rohanasida laho mamampe marga helana manang parumaenna, sai jolo dipasungkunhon do manang na olo nasida marmarga Batak, jala dung dialusi sipangoloi nasida, dipapungu ma dongan tubu dohot boru borhat tu huta ni hula hulana manang tulangna mangelek nasida asa olo nasida marboruhon parumaenna i (molo hela do tu amangboruna do dipangido), jala molo dung dioli, ditontuhon ma tingki pangainon. Diari dohot tingki na binuhul, nunga marpungu sian dongan tubu, boru, bere, pariban, dongan sahuta, hula-hula dohot tulang ni na 2 (dua) hasuhuton.
Urutan pangkataion :

1. Parboru manungkun tu boru niain manang naung sian roha na ias do ibana gabe borunasida.
2. Pabotohon tu dongan tubu dohot boru naung gabe boru nasida na niain i. (boru siampudan ma boru niain on di nasida).
3. Pabotohan tu hula hula dohot tulang naung tamba berenasida.

Tingki mangain :

1. Parboru marmeme boru niain.
2. Mangulosi boru niain ulos parompa.
3. Manjomput boras sipir ni tondi : parjolo tu simanjunjung ni na mangain; tu simanjunjung ni boru niain 3 (tolu) hali; sidung i disaburhon ma boras i humaliang laos didok horas horas horas.
4. Dongan tubu, Punguan, hula-hula dohot Tulang pasahat Ulos.
5. Paranak pasahat piso piso (hepeng).

Dung sidung ulaon mangain, diuduti ma masipanganon
Andorang so mangan, paranak pasahat tudu-tudu ni sipanganon, parboru pasahat dengke simudur udur.
Catatan : Mangain anak manang mangain boru sarupa do pardalan ni paradaton

Ulos

Ulos i ma sibahen na las tu angka na mamangke.
Patupa 1 (sada) ulos na jolo leleng do mangulasa (3-4 minggu). Ai jolo :

1. Busuron do hapas
2. Sorhaon gabe bonang
3. Di itomi
4. Unggason ma muse, baru tu panopan
5. Unihononhon muse baru pe asa ditonun. Tung arta na arga situtu do nilai ni ulos i.

Ulos merupakan simbol penyaluran berkat Halak na talup pasahat ulos, i ma:

1. Orang tua tu ianakhon, haha anggi, amangboru tu maen, pangituai.
2. Hula-hula, tulang, bona tulang, tulang rorobot, bona ni ari.

Ragam ni ulos :

1. Ulos mangiring :
1. Sian natorasna tu boruna naung muli alai dang dope marianakhon
2. Ulos parompa
2. Ulos mangiring pinarsungsang, molo masisuharan di partoturon.
3. Hula hula hian gabe boru
4. Ulos bintang maratur
5. Ulos sadum Angkola (ulos godang)
6. Ulos ragi hotang
7. Ulos sitoluntuho
8. Ulos Balean
9. Ulos Sibolang, Ulos Pansamot, Ulos Tujung
10. Ulos ragi idup
11. Ulos ragidup silinggon
12. Ulos pinunsaan
13. Uios suri-suri lobu-lobu : Ndang digotap rambuna, torus do i mardomu. Dipangke do i songon ulos parompa.

Ulos na so ra buruk didok di tingki siulaon, ndang ulos na tinonum maksudna alai hauma do i na nilehon ni natorasna tu boruna na muli Hauma na nilehon ni natorasna i digoari ma i pauseang. Ulos (Ulos Tujung, Ulos Saput, Ulos Holong/Ulos Sampetua)

1. Ulos Tujun

Tu na mate mangkar : Hula-hulana do pasahat ulos tujung
Ulos i ditujungkon tu simanjujung ni na mabalu i.
Ulos ragidup manang ulos pinunsaan tu na sari matua, saur matua manang saur maulibulung.
Tu na sari matua, saur matua, saur maulibulung ndang digoari be i ulos tujung alai didok ma ulos sampetua jala ulos i diampehon tu abara ni na mabalu i jala ndang siungkapon be i.

1. Ulos Saput

Sai jolo di batang do na monding i baru asa dibaehn saputna. Ulos sampe tu daging ni na monding i jala siboanonna do i tu toru ni tano. Molo so marhasohotan dope na monding i, natorasna do sibahen saputna, alai molo dung marhasohotan, hula-hulana ma na pasahat saput. Ulos saput holan 1 (sada) do, molo 2 (dua) marga ni hula-hulana ndang mangalehon saput anggo hula-hula sian imbang, ulos tujung tu boruna do pasahatonna. Molo marujung ngolu ni ama naung hea mabalu jala mangoli muse, hula-hulana parpudi ma sibahen saputna, boras sipir ni tondi ma sian hula-hulana parjolo. Molo so marpahompu dope na monding i, sibolang manang ulos ragi hotang ma saputna. Molo na sarimatua, saur matua, saur maulibulung na monding i, ulos ragidup mamang ulos pinunsaan ma saputna.

1. Ulos Holong

Sude na pasahat ulos sian horong hula-hula dohot tulang digoari ma i ulos holong. Andorang so dipasahat, jolo disungkun do hasuhoton tu ise hasahatan ni ulos i, manang ampe do i diginjang ni batang manang langsung pasahaton tu pinompar ni na monding i. Ulos tujung, uIos saput dohot ulos holong/sampetua na pinasahat ni hula-hula dohot tulang sialusan ni hasuhuton ma i dohot na pasahat piso-piso.

1. Parpeak ni batang

Di Jabu: Ingkon ungkur tondonghon tiang partonga-tonga ni jabu ma simanjujungna, (sari matua manang saur matua), alai molo poso dope na monding i atik pe naung marpahompu ndang ungkur simanjujungna tu tiang jabu bona alai hombar tu tiang do.
(Sian parpeak ni na monding i botoon ni paningkir ma naposo manang naung sari matua/saur matua na monding i).
Di Alaman: Ingkon dompak bahal do simanjojak/pat ni na monding, ndang marimbar di siamun manang di hambirangna jabuna. Molo 2 (dua) bahal ni huta i, mandompakhon bahal/harbangan siboluson tu udean ma patna.

1. Mompo (masuk manang bongot)

Hata mompo dipangke tingki :

1. Mamongoti jabu barn na so hea diingani dope.
2. Pamasukhon bangke ni natua-tua (sari matua, saur matua) tu ruma-rumana (batangna).
1. Sijagaron

Sijagaron i ma ampang na marisi eme, gambri, sanga-sanga, ompu-ompu (raja ni duhut-duhut) ranting ni jabi jabi manang baringin. Molo naung marpahompu sian anak, marpahompu sian boru na monding i, dipeakhon ma sijagaroni dingkan simanjunjung ni na monding. Molo holan marpahompu sian anak, dingkan siamun ni simanjujung ni na monding i ma hapeahanna, jala molo holan marpahompu sian boru, dingkan hambirang ni simanjujung ni na monding i ma hapeahanna.

1. Pangarapoton

Tu natuatua naung gabe huhut sari matua manang saur matua do dipamasa ulaon pangarapoton. Paidua ni hasuhuton do raja parhata (dumenggan molo raja parhata i natua-tua jala naung marpahompu).

Na mardongan tubu, boru, dongan sahuta, hula-hula dohot tulang marpungu manghaliangi bangke/na monding. Sai jolo masisungkunan manang masisisean do na mardongan tubu, ise ma raja parhata.

Raja parhata maniop pinggan panungkunan manang pinggan pangarapoton na marisi boras sipir ni tondi, demban (napuran) sirarauruk, ringgit sitio soara.

Raja parhata manungkun tu ianakhon ni na monding manang naung satahi saoloan nasida laho paborhathonna na monding i, pasaehon angka persoalan-persoalan molo adong siselesaihononhon. Dung dialusi baru asa diulahon na mangarapot. Raja parhata mangatahon hata pangarapoton diuduti dohot manjomput boras sipir ni tondi, parjolo tu simanjujungna, huhut didok pir ma tondingku, sidung i dijomput ma boras sian pinggan i dibahen tu simanjujung pomparan ni na monding. Parjolo tu anak sihahaan, sidung i tu angka anggina, ibotona, pahompu sian anak ni na monding, pahompu sian boru, tu nini dohot tu nono. Dung sude pomparan ni na monding i manjalo boras sipir ni tondi. Disaburhon raja parhata ma boras dompak ginjang huhut didok horas-horas-horas.

Dipasahat ma sian hepeng, pangarapoton i upa panggabei tu horong hula-hula/tulang, dongan sahuta, dongan tubu, boru, sidung I asa marhata sigabe-gabe jala mangampu ma suhut.

Pengertian Na Mangarapot
Na jolo ndang masa dope suntik songon sinuaeng on. Ala porlu dope bangke i lumeleng di jabu (3, 5, 7 ari), jala asa unang muap, dirapat ma batang i dohot puli (songon lem do i sian tano Hat dohot indahan puti ma di duda, manang sian gula sangka, hapur dohot rihit) tu pardomuan ni angka papan ni batang i asa unang puas angka uap sian bagasanna. Sidung ulaon pangarapoton, mangihut ma adat tu partuatna (maralaman).

Ndang dos sibuaton dipangarapotna dohot dipartuatna. Sai tumimbo do sibuaton dipartuatna sian pangarapotna (molo horbo partuatna, lombu ma pangarapotna, alai molo lombu do partuatna, pinahan lobu ma pangarapotna).

Sipata nunga dipasada pangarapotna dohot partuatna sadari i, i m lombu na tinungtungan. Dung sidung ulaon pangarapoton diuduti ma dohot na marsipanganon, dohot na mambagi perjambaron.

Hasuhuton mangido tumpak sian dongan tubu, boru bere, donga sahuta, ale-ale (Hasuhuton mandok hata mauliate ditumpak na jinalo nasida)
Mandok hata pasu-pasu, hata sigabe-gabe horong hula-hula dohot tulang dung i mangampu ma suhut.

1. Parjambaron
2. Simarmiak-miak

Ihur-ihur : Tu hula-hula
Osang : Di Boru;bere/ibebere
Na marngingi : Tulang
Somba-somba/Rusuk: Hula-hula na asing dohot Tulang
Soit : Dongan sahuta

1. Sigagat Duhut

Ihur-ihur : Tu hula-hula
ULU : Tulang ni na monding
Panamboli/Ungkapan: Dongan tubu ni hasuhuton
Tanggalan/Rungkun : Boru
Somba-somba/Rusuk: Hula-hula na asing dohot Tulang
Soit : Dongan sahuta.
6.2.16 Pemberian Ulos Pada Waktu Meninggal

Masyarakat Batak dalam perjalanan hidupnya, tidak dapat terlepas dari Adat Batak. Dari semasa dalam kandungan dan sejak lahir sampai meninggal dunia, adat selalu mewarnai perjalanan hidupnya. Pada kesempatan ini alangkah baiknya kita terlebih dahulu memahami kategori orang Batak Toba ketika meninggal dunia (monding)
Ada kategori (gelar) bagi orang Batak Toba bila menutup mata selama-lamanya (monding) sebagai berikut :

1. Sarimatua

Yang dimaksud dengan istilah "Mate Sarimatua" adalah bagi mereka-mereka yang telah dikaruniai Tuhan anak laki-laki dan perempuan dan telah mempunyai cucu tetapi masih ada diantara anaknya yang belum berumah tangga yang jelas masih tanggungan
orang tua.

Perkataan sarimatua terdiri dari dua kata dasar yakni "sari" dan "matua" berarti path waktu dia meninggal dunia sudah mencapai usia lanjut, yang ukurannya telah mempunyai generasi penerus minimum dua derajat yaitu anak, cucu.

1. Mate Saurmatua

Yang dimaksud dengan istilah "Mate Saurmatua", adalah bagi mereka-mereka yang telah dikarunia Tuhan anak laki-laki dan anak perempuan dan sudah berumah tangga dari anak-anaknya tersebut telah dikaruniai pula cucu-cucu dan bahkan cicit.

Perkataan "saurmatua" terdiri dari dua kata dasar yakni "saur" dan matua". Kata saur berarti cukup gabe dan keturunan. Karena sewaktu dia meninggal dunia, tidak ada lagi yang ditinggalkannya yang masih harus jadi tanggungannya.

Perkataan "Matua" berarti pada waktu ia meninggal dunia dia sudah mencapai usia lanjut, yang ukurannya telah mempunyai generasi penerus minimum dua derajat, yakni anak, cucu.

1. Mate Saurmatua Bulung

Yang dimaksud dengan "Mate Saurmatua Bulung", adalah bagi mereka yang anak-anaknya laki-laki dan anak perempuan sudah berumah tangga, bahkan anak-anak yang sudah berumah tangga tersebut sudah mempunyai anak dan cucu, cicit. Jadi orangtua yang meninggal tersebut adalah orangtua yang sudah tergolong kategori "gabe" karena sudah mempunyai generasi penerus tiga derajat, yaitu anak dan cucu, cicit. Dalam bahasa Batak orangtua yang meninggal tersebut dijuluki sudah Marnini Marnono.

1. Kematian anak-anak/remaja

Selain dari pada ketiga kategori kematian tersebut diatas, dalam masyarakat Batak Toba kita kenal juga kematian "anak-anak/remaja/muda mudi" yang belum dapat digolongkan dalam ketiga kategori tersebut diatas yang biasa disebut mate di paralangalangan atau mate mangkar. Penyelesaian adat acara pemakaman masing-masing dilakukan sebagai berikut:

1. Jika anak-anak yang meninggal, cukup dihadiri keluarganya,keluarga dekat dan dongan sahuta, satu dua orang yang memberikan kata penghiburan kepada keluarga yang berduka (tilahaon) kemudian diserahkan kepada pengurus jemaat untuk acara penghiburan di rumah dan acara penguburannya di kuburan secara gerejani.
2. Jika remaja atau muda mudi yang meninggal dunia tentu yang hadir akan lebih luas terutama dari unsur Dalihan Natolu, Dongan Sahuta, Handai tolan lainnya, beberapa pihak diatur untuk memberikan kata kata penghiburan kepada keluarga yang berduka. Setelah diampu oleh hasuhuton langsung diserahkan kepada Pengurus Jemaat untuk acara penghiburan di rumah dan seterusnya acara pemakamannya ditempat kuburan (Udean) nya.

1. Mate Mangkar

Apabila si sumai yang belum tergolong kategori Sarimatua, Saurmatua atau Saurmatua Bulung yang meninggal dunia itulah yang disebut "Mate Mangkar". Ulos Saput diberikan oleh Tulang (paman) untuk bertanya yang meninggal itu dan istrinya yang masih hidup diberikan ”Ulos Tujung" oleh Hulahulanya. Apabila si istri yang meninggal, ulos saput diberikan hulahula dan kepada suami yang hidup diberikan Ulos Tujung biasa oleh Tulang. Dan ulosnya adalah dari jenis ulos Sibolang, tetapi dibeberapa daerah yang memberikannya adalah Tulangnya. Apabila si suami yang tergolong kategori Sarimatua, Saurmatua atau Saurmatua Bulung yang meninggal dunia Ulos Saput untuk ketiga kategori tersebut diberikan oleh Tulang, sedangkan untuk istrinya yang masih hidup oleh Hula hula diberikan ulos sampetua, biasanya dari jenis ulos Sibolang.

Jika si istri dari ketiga kategori tersebut yang meninggal dunia yang berkewajiban memberi ulos saput adalah Hula hula, sedangkan untuk suaminya yang masih hidup diberikan ulos sampetua juga dari ulos sibolang oleh tulang. Untuk pemahaman kita bersama cara penyelesaian acara adat pemakaman seperti tersebut diatas tidak mutlak berlaku di semua daerah, karena mungkin saja ada daerah yang berbeda pelaksanaannya.

Tata cara pemberian ulos bilamana seseorang yang sudah kawin meninggal dunia terjadi penyerahan ulos :

1. Ulos Tujung
2. Ulos Sampetua
3. Ulos Saput

Dibawah ini diberikan uraian tentang macam ulos tersebut :

1. Ulos Tujung

Ulos Tujung adalah satu ulos yang diberikan Hulahula kepada yang ditinggalkan yaitu Janda atau Duda. Falsafah pemberian ulos ini adalah suatu pengakuan resmi dari kedudukan seorang yang menjadi janda atau duda berada dalam satu keadaan duka yang terberat dalam hidup seseorang, ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh teman sehidup semati.

Sekaligus berupa pemyataan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya dari pihak Hulahula, Ulos Tujung biasa kita lihat diberikan dari jenis Ulos Sibolang, yang memberikan Ulos Tujung harus orangtua langsung dari si istri, jikalau tidak bisa hadir atau sudah meninggal oleh abang/adik kandung si istri pokoknya dari keluarga terdekat dari hula-hula itu. Biasanya Ulos Tujung diberikan pada hari pertama yang meninggal itu, tetapi ada juga yang memberikan pada pagi hari penguburan.

Cara pemberian Ulos Tujung ialah menyampirkan dari sebelah kanan melewati di atas kepala sampai sebelah kiri, biasanya sampai menutupi muka yang bersangkutan, cara pemberian seperti diatas adalah terutama bila yang meninggal itu masih ada tanggung jawab terhadap anak-anaknya, masih sekolah atau belum kawin. Sifat meninggal demikian disebut "mate mangkar" sambil memberikan Ulos Tujung yang biasanya terjadi dengan penuh haru, ungkapan berikut misalnya dapat diucapkan :
"Hamu Ito (bila suami yang meninggal)
"Hamu Hela (bila istri yang meninggal)

Ruhut ni adatta do molo masa sitaonon arsak ni roha na ampe tu pargellengon na songon on, mangihuthon adat pasahatonnami ma ulos on, huhilala rohanami do dokdok ni panghilalaan muna siala sitaonon on. Jadi dohononnami ma, saluhut angka na masa tangkas do i diida jala diboto Tuhanta, jadi gogo ma hamu martangiang anggiat tibu di lehon Tuhanta apulapulna na sumurng i tu hamu.

Asa marbenget ni roha jala margogo hamu satongkin di parungkilon na ampe tu hamu di tingki on jala asa dipadao Tuhanta i ma arsak ni roha dohot pandeleon sian hamu. Tu Tuhanta i ma pasahat hamu arsak ni rohamuna on, ai ibana do pangapul na lumobi.
Hotang binebe bebe,
Hotang pinulos pulos
Unang hamu mandele
Ai godang do tudostudos
Boti ma.

Acara Membuka Tujung
Pada tahun-tahun terakhir ini telah kita lihat bahwa acara pembukaan tujung itu biasa dilakukan pada malam harinya setelah kembali dari tempat penguburan. Yang mengadakan acara pembukaan tujung itu ialah pihak Hulahula yang dulunya pihak yang menyampaikan ulos tersebut kepada Borunya. Untuk pelaksanaan acara ini telah disiapkan lebih dahulu bahan-bahan yang diperlukan untuk itu yaitu air putih dalam baskon, air putih bersih dalam satu gelas, sekedarnya beras di dalam sebuah piring.

Dimana Janda atau Duda yang bersangkutan sudah duduk dengan memakai Ulos Tujung diatas kepalanya didampingi oleh anak-anaknya. Hulahula datang mendekat dengan bahan-bahan yang telah disiapkan. Mula-mula dibukalah Ulos Tujung dari kepala yang bersangkutan dan dilepaskan dari badannya dan bisa terus dilipat dan diletakkan disamping sambil mengucapkan kata-kata berikut :

Hamu Borunami/ Helanami.
Dapot ma tingkina ungkaponnami tujung on sian Simanjujung muna. Sai bungka jala ungkap ma ari na tiur di hamu. Sai lam tu neangna ma panghilalaan muna asa lam sumuang gogomu tu joloan ni ari on, marhite hite asi ni roha ni Tuhanta.

Ihut tusi dibuat ma aek na di baskom i, dung i disuaphon ma 2 hali tu bohi nina sinuapan i huhut ma didok :
Husuapi ma hamu dohot aek sitiotio on, asa tio ma parnidaonmuna asa minar nang panailimuna. Diapusi Tuhanta ma iluilu sian simalolongmuna asa tangkas tiur ari idaonmuna, laho mandalani ngolumuna tu joloan on. Sai dapot ma di hamu songon nidok ni umpasa:
Sai bagot na madungdung ma tu pilopilo na marajar
Sai salpu ma na lungun, sai ro ma na jagar.

Dung i, dipainumhon aek sitiotio na di galas i. Huhut didok, Inum hamu ma aek sitiotio on. Asa sai tio ma pardalananmuna tio parhorasan dohot panggabean tu joloan on ditumpak asi ni roha ni Tuhanta.

Pangujungina di jomput ma boras na sian bagasan piring i diampehon tu ulu ni Boru/ Hela i, huhut dihatahon umpasa :
Tinapu ma bulung siarum
Behen uram ni porapora
Tibu ma na hansit i malum
Soluk ma silas ni roha.

Eme Sitamba Tua
Parlinggoman ni Siborok
Tuhanta ma silehon tua
Hipas hipas ma hamu diparorot.

Udut tusi dijomput ma muse boras i diampehon tu simanjunjung ni angka ianakhonna i sude. Dung i rap mandok ma Horas 3 kali.
Demikianlah tata cara ada berkaitan dengan memberi dan membuka tujung.

Seterusnya dilanjutkanlah acara itu dengan makan bersama. Biasanya Hulahula telah siap membawa Indahan apulapul dan menyampaikan dengke sitiotio, dengke sahat agar keluarga Borunya itu dapat hendaknya terhibur dan sahat terapul pada masa-masa yang akan datang.

Makna dari "Buka Tujung" ialah bahwa sejak Tujung dibuka maka Janda atau Duda yang bersangkutan sudah bebas, bolehlah bebas bekerja, mengerjakan pekerjaannya yang biasanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam keluarga untuk mengurus anak-­anak sekolah yang masih memerlukan bimbingan dan pengurusan seperlunya.

Bilamana yang dibuka Tujung itu adalah si suami (istrinya yang meninggal) maka di dalam buka tujung itu terselip satu makna dari pihak Hulahulanya bilamana ketemu jodoh sudah diikhlaskan untuk kawin lagi.
Menurut Ruhut Parmahanion dohot Paminsangon (RPP) HKBP 1987 Bab IV-1-7, telah diatur mengenai hal ini sebagai berikut:

1. Gereja (Huria) hanya boleh memberkati perkawinan suami (na mabalu) setelah lewat 6 (enam) bulan sejak istrinya meninggal. b. Demikian juga terhadap seorang istri (na mabalu) gereja hanya memberkati perkawinannya, setelah lewat 1 tahun, sejak suaminya meninggal.
2. Tetapi jika ada anak kecil dibawah usia 2 (dua) tahun, Praeses dapat memberikan pertimbangan (Dispensasi), mempersingkat masa persetujuan dimaksud pada point a dan b diatas, tetapi minimum 3 (tiga) bulan.

Adalah menjadi fakta dalam kehidupan masyarakat Batak bahwa seorang istri yang jadi janda, bila mana telah memperoleh anak, terutama laki-laki tidak ada niat lagi untuk kawin, tetapi terus akan mengurus dan membesarkan anak-anaknya dan tetap tinggal dalam lingkungan keluarga mendiang suaminya, sampai dia tua dan meninggal sebagai paniaran dari kelompok marga suaminya. Pendeknya si janda, biar pun masih relatif muda, akan menjunjung tinggi peninggalan dan marga suaminya yang juga adalah marga dari anak-anaknya.

2. Ulos Sampetua
Ulos Sampetua diberikan kepada suami dan istri yang berduka karena meninggalnya (suami atau istri) bagi yang tergolong kategori Saurmatua, Saurmatua Bulung. Ulos tersebut diberikan adalah semata-mata merupakan tanda berkabung. Cara penyampaiannya, tidak dikerudungkan diatas kepala yang berduka tetapi diletakkan diatas bahu bagi penerimanya cukup saja diuloshon.

Dengan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Batak Toba : Hamu Namboru (atau Amangboru) naung ganjang do umur ni Amanghoru (manang Namboru) dilehon Tuhanta sahat tu na Saurmatua, Saurmatua Bulung jala torop pinompar ni anak dohot pinompar ni boru sahat gabe marnini jala marnono. Ndang tama be hita didondoni arsak ni roha, alai saluhutna i taboan ma dibagasan tangiang huhut mandok mauliate tu Tuhanta siala godang ni denggan basana na tajalo di ngolunta. On pe pasahatonnami do tu hamu Ulos Sampe Tua mardongan tangiang nami, sai boi dope dilehon Tuhanta i gumanjang umur muna dibagasan hahipason dohot las ni roha pairingiring angka pomparan mi.

Bagi yang menerima ulos Sampetua pada dasarnya tidak dibenarkan lagi kawin, kecuali ada pertimbangan yang sangat urgent.
Penerima Ulos Sampetua tidak lagi dilakukan acara pembukaan. Karena pemberian ulos ini adalah bermakna ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkatnya kepada suami atau istri yang meninggal telah mencapai usia lanjut dan menikmati hagabeon telah dikaruniai Tuhan beranak cucu atau cicit.

3. Ulos Saput
Apabila suami yang meninggal dunia baik ia meninggal di paralangalangan yang disebut "mate mangkar" maupun meninggal dalam kategori "Sarimatua, Saurmatua atau Saurmatua Bulung". Tulangnya yang tetap berkewajiban memberikan Ulos Saput.
Disinilah secara jelas kelihatan indahnya adat Batak Toba itu, karena tata hubungan kekeluargaan itu dijaga ketat dan tetap terpelihara sampai tua, contohnya :

1. Pada waktu berenya tadi baru lahir Tulangnya datang dengan membawa makanan dan menyampaikan sehelai ulos Parompa untuk menggendong berenya itu menunjukkan kasih sayang seorang Tulang kepada berenya itu.
2. Didalam kehidupan selanjutnya pun biasanya hubungan Tulang, dengan berenya selalu rapat dan mesra. Pada setiap kejadian setiap acara keluarga atau acara adat, biarpun Yang sifatnya kecil, Tulang adalah hulahula dari orangtuanya dan merupakan unsur yang dihormati dalam falsafah Dalihan Natolu.
3. Jika yang baru lahir tadi merupakan berenya yang pertama dan setelah dewasa, sewaktu dia mau kawin dengan yang bukan boru ni tulangnya kandung, ia harus minta ijin lebih dulu dari' Tulangnya, tulangnya (pamannya) menyetujui permohonan berenya dengan restu : "Boru ni ise pe taho dioli ho bere, Borungku ma i". Artinya, pada siapa pun engkau kawin, istrimu itu saya anggap boruku kandung.

Pada waktu perkawinan berenya, Tulangnya itulah yang berhak "Sijalo Tintin Marangkup", untuk realisasinya orangtua pengantin wanita dan orangtua pengantin pria secara bersama-sama datang menjumpai Tulang dari Pengantin pria ditempat duduknya.

Orangtuanya pengantin wanita berkata :
"Hamu haha ni parhundul nami, marga ... godang do hujalo hami Sinamot ni Borunta i, uli ma rohamu manjalo on, Pangintubu do hami di borunta i, anggo paindun hamu do".
Artinya : Orangtua pengantin wanita menyerahkan sejumlah uang sebagai bagian dari sinamot yang diterima pada Tulang dari Helanya, yang disebut "Jambar Tintin marangkup". Dengan demikian Tulang dari pengantin pria berkewajiban memperlakukna istri dari berenya itu sebagai borunya.

1. Pada waktu berenya tersebut meninggal dunia Tulangnya tetap berpartisipasi dan berkewajiban dalam acara adat meninggal dunia itu dengan menyediakan Ulos Saput.

Perlu dijelaskan bahwa kebiasaan yang berlaku di masyarakat Batak Toba, demikian juga kita lihat di Bona Pasogit bahwa yang disebut Ulos Saput adalah dikembangkan diatas peti mayat disana disebut Ulos Tutup Batang (Ulos Penutup Peti Mayat) Ulos ini nantinya akan diambil oleh boru dari Suhut Bolon. Bilamana Bapaknya meninggal dunia yang berhak mengambil Ulos Tutup Batang itu adalah Boru siangkangan. Dan sekiranya Ibunya yang meninggal dunia itu, yang berhak mengambil Ulos Tutup Batang itu adalah Boru Siampudan.
Jadi tata cara penyerahan ulos ini hanya diherbangkan diatas peti mayat tersebut, dengan tentu disertai ucapan-ucapan pepatah-petitih Batak Toba oleh Tulang sebagai kata-kata penghiburan kepada keluarga berenya yang berduka cita.
Biasanya ulos yang dipakai sebagai ulos adat yang diberi nama Ulos Saput dan Ulos Tujung adalah dari jenis Sibolang.
6.2.17 Acara Tonggo Raja

Pelaksanaan upacara dalam rangka meninggalnya orang tua (monding) di Bona Pasogit kita lihat bahwa orangtua yang meninggal dunia itu apalagi sudah termasuk kategori Saurmatua dan Saurmatua Bulung ada kalanya masih berada beberapa hari di dalam rumah, dihadapi oleh kerabat keluarga sambil menerima tamu-tamu yang datang untuk memberi penghiburan kepada keluarga yang berduka cita.

Sebelum tiba saatnya pada acara pemakaman tersebut di Bona Pasogit biasa dilakukan satu acara yang disebut Tonggo Raja, untuk membicarakan Pesta Besar yang akan dilakukan itu.
Adalah menjadi keharusan yang utama dalam masyarakat Batak Toba terlebih dahulu mengadakan acara Tonggo Raja untuk memperlancar pesta adat tersebut yang akan dilaksanakan itu baik dalam pesta las ni roha maupun kematian orangtua. Hasuhuton tentu mengundang pihak-pihak Raja ni Tutur umpama Bona ni Ari, bona Tulang, Tulang dan Hula-hula serta hulahula dari seluruh anak-anaknya. Selanjutnya Dongan Tubu, pihak boru, aleale dan semua naposo Bulung di daerah itu, juga harus turut mengundang Raja Adat, Raja Bius, Raja Sitolutali di Bius Simarmata di Bona Pasogit.

Umumnya Hasuhuton mempersiapkan acara makan bersama dan terlebih dahulu menyuguhkan tudu tudu ni sipanganon kepada Raja ni Tutur dan khusus disiapkan juga Adopan na marsintuhu kepada Raja Bius tersebut. Biasanya pinahan na marmiakmiak yang lebih besar itu diatur menjadi tudu-tudu ni sipanganon kepada Raja ni Tutur dan semua undangan dan dari pinahan na marmiak miak umpamanya dari lomok-lomok yang diatur sebagai adopan kepada Raja Bius.
Setelah selesai acara makan langsunglah diadakan pembagian jambar juhut dan diserahkan kepada siapa siapa yang berhak menerimanya sesuai dengan pembagian perjambaran juhut yang telah biasa dilaksanakan pada setiap acara pesta tertentu di daerah tersebut.

Selanjutnya dimulailah acara pembicaraan.
Dengan singkatnya Hasuhuton terlebih dahulu mengucapkan terima kasih dan menjelaskan inti sari dari Tonggo Raja itu kepada semua undangan yang hadir dengan permohonan agar mendapat persetujuan dari semua yang hadir dan dapat kiranya memberi bantuan seperlunya dalam pesta yang dimaksud.

Dengan selesainya mendengar penjelasan dari Hasuhuton maka para tamu yang diundang itu menyambut hangat dan dapat menyetujui pesta tersebut selanjutnya berjanji siap sedia memberikan bantuan demi kelancaran pesta yang akan diadakan.
Lalu dijelaskan pelaksanaan pesta :

1. Hari dan tanggal................
2. Diringi gondang sabangunan
3. Mangalahat hoda
4. Panjuhutina horbo sigagat duhut
5. Selesai acara tortor setiap rombongan masuk ke rumah untuk makan
6. Pembagian torda parjambaran juhut
7. Malamnya penyelesaian adat sombasomba atau pisopiso.

Selanjutnya diadakanlah musyawarah mufakat untuk menentukan petugas-petugas yang bertanggung jawab memimpin masing-masing pekerjaan tersebut sesuai dengan keperluan yang dibutuhkan atas usul Dongan Sahuta, Dongan Sabutuha, Raja ni Boru dan Naposo Bulung.
Hasuhuton kembali mengucapkan terima kasih dengan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga dalam rangka pelaksanaan pesta tersebut kiranya Tuhan memberkatinya, lalu ditutuplah pertemuan Tonggo Raja itu dengan lagu-lagu pujian dan Doa yang dipimpin oleh pengurus Jemaat, Horas.
6.2.18 Goar-Goar Ni Ulos

1. Ulos Jugia
2. Ulos Ragidup
3. Ulos Ragihotang
4. Ulos Sadum
5. Ulos Rujat
6. Ulos Sibolang
7. Ulos Suri-suri Ganjang
8. Ulos Mangiring
9. Ulos Bintang Maratur
10. Ulos Sitolu Tuho
11. Ulos Jungkit. Dll.

Angka Gondang

1. Gondang Mula-mula
2. Gondang Somba-somba
3. Gondang Mangaliat
4. Gondang Mangolopi
5. Gondang Maniuk Osang/Sabe-sabe
6. Gondang Sitiotio Hasahatan

Hata Tu Namonding

1. Sari Matua
2. Saur Matua
3. Saur Matua Bulung
4. Mate Dakdanak / Magodang - Tilaha
5. Mate Mangkar dang adong Nahot ianakkon

Angka Ulos Ni Namonding

1. Ulos Saput tu Namonding
2. Ulos Tujung tu Namangkabaluhon

Molo poso (Dang Saur Matua)

1. Ulos Sampe Tua tu Namangkabaluhon - naung saur matua.

Membuka Acara Pesta Dimulai Dari Gereja (Huria)

Setelah datang semua keluarga dan kaum famili dari tempat jauh dan para undangan pun sudah hadir maka pada malam harinya dimulailah acara pesta dengan diiringi gondang sabangunan.

Dimulailah acara pembukaan pesta yang didahului dengan kebaktian singkat yang dipimpin oleh pengurus Jemaat untuk menyinari pelaksanaan pesta dalam rangka memberikan nasehat-nasehat seperlunya sesuai dengan firman Allah, setelah selesai acara khotbah tersebut ditutuplah dengan nyanyian rohani dan doa.

Kemudian diharapkan kesediaan pengurus Jemaat dalam pembukaan pesta tersebut untuk menari sambil meminta gondang mula-mula, dan acara tortor selanjutnya mempergunakan kesempatan menyampaikan rasa hormat menghormati antara Hasuhuton dengan Pengurus Jemaat dalam hal na maniuk osang dan na marsiolop-olopan.

Dimintalah gondang Sitiotio dan Gondang Hasahatan.
Lalu dilanjutkanlah acara pesta dengan urutan Tortor yang telah tertentu yang berlaku di daerah setempat, umpamanya:

1. Tortor Hasuhuton
2. Tortor Dongan Sabutuha, Dongan Tubu
3. Tortor Raja Adat, Raja Bius
4. Tortor Bona ni Ari
5. Tortor Bona Tulang
6. Tortor Tulang
7. Tortor Hulahula dan Na marhaha/maranggi
8. Tortor Hulahula ni ianakhon
9. Tortor Parboruon
10. Tortor Naposo Bulung Tortor seterusnya sampai selesai.

Acara Pesta Di Halaman

Pada pagi hari acara tersebut kira-kira jam 8.00 pagi, semua Hasuhuton sudah disiapkan untuk makan dan seterusnya bersiap memakai pakaian adat, pakai selendang Ulos Ragidup dan siap pakai Talitali (topi) demikian juga para Ibu-ibu Hasuhuton telah lengkap memakai pakaian adat yang cantik-cantik serta perhiasan seperlunya.

Pada jam 09.000 WIB maka diminta dan dipanggil semua keluarga untuk masuk dalam rumah untuk memulai acara pesta dan rombongan pargonsi pun sudah naik ke bonggar mempersiapkan alat-alat musiknya agar dimulai acara pesta. Setelah semua Hasuhuton sudah siap bersama pihak Boru maka Hasuhuton menyediakan uang Pinta pinta kepada Pargonsi, biasanya dalam sebuah gajut yang berisi beras, sirih dan ke dalamnya dimasukkan beberapa lembar ringgit sitiotio soara, untuk bahan pinta pinta tersebut, orangtua yang meninggal itu. Seorang dari pihak Protokol Hasuhuton menyampaikan gajut pamintaan tadi dengan meminta kepada pargonsi.

"Amang Panggual Pargonsi, ndang tuktuhan batu,
dakdahan simbora, ndang tuturan datu, siajaran na
marroha, na bisuk marroha jala halak na malo do ho,
nang so hugoaripe nunga jumolo diboto ho, gohi
damang ma jolo gondang sipitu nombas i".

Pargonsi sudah lebih mengerti urutan dari gondang sipitu nombas itu. Dalam acara ini tidak boleh seorangpun yang berbicara, tetapi harus dengan sikap hormat sambil duduk manombanomba, selesai ini baru dipersilahkan semua berdiri dan mulailah menari marsiolopolopan dan marsisiuksiukan sesuai dengan adat sesama mereka.

Setelah sabas dan merasa puas dalam acara menari itu, sudah tiba waktunya, agar orangtua yang meninggal dunia itu akan dibawa ke halaman rumah, sehubungan dengan para tamu sudah lama menanti nantikannya akan pelaksanaan acara puncak di tengah halaman.

Maka Suhut Sihabolonan itupun turun ke halaman dan mayat orangtua yang meninggal dunia itupun dibawalah ke halaman, semua keluarga anak, parumaen, hela, boru dan cucu serta cicitnya mengiringi dari belakang. Pada waktu itu seorang dari Boru telah siap membawa sebuah gajut yang berisi boras, dimana selama perjalanan itu selalu berulang-ulang menaburkan beras itu ke arah atas dan semua mengucapkan Horas Horas. Sesampai di halaman peti mayat itu diletakkan di atas sebuah meja yang agak tinggi supaya jelas dapat dilihat orang, setelah semua persiapan yang diperlukan telah lengkap, umpamanya, "borotan" kuda telah berdiri ditengah halaman dan seekor kuda telah siap ditambatkan pada borotan itu, yang nantinya akan dilihat pada waktu Tortor mangaliat. Diaturlah Hasuhuton agar berdiri ditempatnya masing-masing, menurut aturan semestinya sesuai dengan adat anak sulung berdiri disebelah kiri dan adik-adiknya disebelah kanan dan semua istri-istri dibelakang suaminya dan pihak boru dapat mengatur barisannya.
Tortor Hasuhuton
Gondang Mula Mula

Maminta Gondang Mula, laos dipasahat hepeng pamintaan.
"Amang Panggual Pargonsi, Amang Pangoloi, Amang Sioloan, Parindahan na suksuk parlompan na tabo. Ia nunga marpungu hami hasuhuton di jolo ni jabu na marampang na marjual on, jabu sibaganding tua panjaloan sangap dohot tua sian Amanta Debata Pardenggan basa i, huhut jongjong di tonga ni alaman amparan na bidang marsada ni roha sahata saoloan mangadopi pesta di parmonding ni amanami ma Saurmatua on. Asa bahen damang ma jolo gondang mulamula i, ai marmula do hagabeon, marmula do hasangapon marmula nang hatuaon. Tamba ni naung adong i sipasahaton ni Tuhanta i tu hami Hasuhuton on, tangkas ma bahen damang".
Gondang Sombasomba

Huhut dilehon pamintaan
"Amang Panggual Pargonsi, parindahan na suksuk, parlompan na tabo, Taruan Bodari, alapon manogot nang pe so hudok, nunga diboto ho. Baen damang ma jolo gondang sombasomba, asa jumolo hami marsomba tu jolo ni Amanta Pardenggan Basa i, Sitompa saluhut nasa na adong, haroroan ni nasa denggan basa na mauliutus, pasupasu las ni roha di pardagingon nang di partondion. Na mangalehon ari na uli, ari na denggan on, asa tiur songon mata nia ri, rondang songon bulan, tio songon mata ni mual jala rintar songon bonang di gala, di ulaonta on tinumpak ni Amanta Debata.
Laos songon i asa manomba hami tu amanta raja ro di sude na pinarsangapan na Hat na lolo i".
Tangkas ma bahen damang …………..!
Gondang Mangaliat

Dipinta ma gondang mangaliat dung dipasahat, pamintaan :
"Amang Panggual Pargonsi, bahen damang ma gondang mangaliat asa mangaliat hami.
Asa situbu ni iaklak ma situbu ni singkoru di dolok ni Purba Tua. Sai torop ma tubu ni anak tubu ni boru na gabe dongan Saurmatua.
Asa liat ma panggabean, Hat parhorasan di saluhut hami pinompar ni amanta na Saurmatua on, manjalo pasupasu ni Amanta Debata". Tangkas ma bahen damang!
Gondang Mangolopi

"Amang Panggual Pargonsi, tangkas ma bahen damang gondang pangidoan tu Amanta Debata songon na nidok ni umpasa on :
Niumpat padang togu magihut simarbulubulu. Marhite asi ni roha ni Amanta Debata asa saluhut pinompar ni amanta na saurmatua, tu lelengna ma mangolu, sahat tu na Saurmatua, ro di na sarsar uban di ulu, sahat tu na pairingiring angka pahompu. Eme Sitambatua, Parlinggoman ni siborok, Amanta Debata do silehon, tua, sai horashoras ma hita diparorot.
Tangkas ma bahen gondang na mangolopi, sampur mar meme dohot sampur marorot, asa mangolopi hami ianakhon ohot borunami".
Gondang Maniuk Osang

"Amang Panggual Pargonsi, tangkas ma bahen damang gondang mangido pasu-pasu tu Amanta Debata, songon na pinangido ni umpasa on.
Balga tiang ni ruma, umbalga do tiang ni sopo, Nunga balga jala sangap Saurmatua angka natuatua, Sai umbalga ma jala sangap dohot tu ganjang ni umur ni angka na umposo manghangoluhon basa basa dohot pasupasu ni Amanta Debata.
Sitorop ni dangkana ma sitorop ni ranting na rugun dohot bulungna, Sai torop ma pinompar ni hahana, torop muse pinompar ni anggina nang pinompar ni boruna. Angka na marsangap jala martua. Tangkas ma bahen hamu pangidoannami i".
Gondang Sitiotio

"Amang Panggual Pargonsi, Bahen damang gondang sitiotio i, Anggiat "asi roha ni Amanta Debata na mangalehon pasu-pasu na godang las ni roha na sonang anggiat lam tu tio na parngoluan siganup ari, asal lam tu tiona pansarian dohot tio ni pandaraman. Asa jumpang na jinalahan jala sai dapot na niluluan, Sipansindak panaili, sipatio parnidaan, sipaneang holiholi jala palomak imbulu.
Songon nidok ni umpasa on, turtu ninna anduhur, tiotio ninna lotc. Saluhut angka na denggan basani Tuhanta na tajalo i sai unang muba jala unang mosa.
Tangkas ma bahen Sitiotio i".
Gondang hasahatan

"Amang Panggual Pargonsi, bahen damang ma gondang Hasahatan i, asa sahat na uli, sahat na denggan di hita on saluhutna lehonon ni Amanta Debata Pardenggan Basa i.
Naung sampulupitu, jumadi sampuluualu, saluhut hata na uli ampe ma tu sambubu tuak ma tua abara. Boanon ma i tangkas tu tonga ni jabu. Sahat-sahat ni solu, sahat tu bontean di labuan ni Tigaras, sahat ma hita leleng mangolu, sahat gabean jala horas-horas.
Acara Tortor Namangaliat
Tortor Dongan Sabutuha/Dongan Tubu

Pertama-tama rombongan dongan Sabutuha dan Dongan Tubu itu meminta gondang mula-mula.

1. Sesudah itu meminta gondang Mangaliat. Biasanya dalam waktu ini ibu-ibu dongan sabutuha dan dongan tubu manjujung tandok yang berisi beras sebagai Siluanya, selesai mangaliat itu diserahkanlah "boan" tersebut kepada hasuhuton, dan kembali ke tempat berdiri semula sebagai biasa.
2. Gondang mangolopi dan maniuk osang hasuhuton sesuai dengan adat "partuturonnya" sebagai Abang atau Adik.
3. Gondang mangolopi dan maniuk osang oleh hasuhuton terhadap pihak dengan tubu.
4. Gondang Sahata saoloan, Amang Panggual Pargonsi bahen ma jolo songon na pinangido ni Umpasa on :
5. Silaklak ni urukuruk, silanlan ni aek Toba.
6. Dakdanak so marungutungut, na matua pe marlas ni roha.
7. Balintang mau pagabe, mandompakhon sitadoan. Arinami ma gabe, na maranggi marhaha na mardongan tubu molo masipaolooloan jala sahata saoloan.
8. Gondang sitiotio
9. Gondang Hasahatan

Selesai acara tortor, pihak parhobas menyampapikan torda Jambar Juhut kepada yang Mardongan tubu.
Tortor dari Raja Bius

Acara tortor dalam hal ini serupa dengan acara tortor pada nomor II di atas, selesai acara tortor Raja Bius pihak perhobas didampingi Hasuhuton menyampaikan torda Jambar Juhut dari Tulang Bolon dan diundang masuk ke rumah dalam rangka penggalangan acara makan.
Tortor dari Bona Ni Ari

Acara tortor serupa dengan acara tortor pada nomor diatas. Pada acara tortor Bona Ni Ari mengolopi kepada Hasuhuton. Biasanya sambil menyampaikan ulos kepada pihak Hasuhuton yang diberi nama Ulos Holong. Pada acara tortor manombanomba.
Saran-Saran

1. Porlu dope hita manggali kebudayaan i marhite manjaha buku dohot mambahen penelitian asa taantusi tangkas ruhut-ruhut ni kebudayaan i lumobi Hata Batak.
2. Molo marumpasa (mamasu-masu) denggan do jouonta goar ni Tuhan anggiat sahat pasu-pasunai, Jala asa tarida muse inkulturasi ni ugamontai.

Sude halak na marumpasa ingkon botoonta do unsur-unsur anatomi ni umpasa i asa boi partanggungjawab honors to umum lumobi to na umposo.

1. Sae ma/paling godang pasu-pasu i 3 (tolu), alai ingkon umpasa na tingkos. Unang pola Laos sude pinaharuar gate mubajir huhut muse ndang memenuhi syarat.
2. Asing Umpasa asing do Umpama.
Panimpuli/ Parpudi

Ima na boi pinasahat ditonga tonganta dengan banyak kekurangannya.
Alai dia na boi masuk to rohanta dohot to pingkiranta boi to kembangkon jala taulahon

PEDOMAN
HOT DI DALIHAN NATOLU
ASING LUAT ASING ADATNA
SIDAPOT SOLUP NARO
AEK GODANG TU AKE LAUT
DOS NI ROHA SIBAEN NA SAUT

BALINTANG MA PAGABE TU MONDALHON
SITADOAN ARI NAMARULAON DO
GABE MOLO DUNG MARSIPAOLO OLOAN

disaring dari berbagai sumber

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar

Cerita Buram Dari Sebuah......

Tukeran Link(Copy Paste Kode ku ini)

Photobucket